. いのちねの世界
Showing posts with label Fanfic. Show all posts
Showing posts with label Fanfic. Show all posts

Monday, 29 August 2011

STOP!! MY FRIEND...!! (Chapter 2)

- SHIBUYA, TOKYO -

     Satu minggu kemudian setelah menerima hasil kegiatan belajar semester satu, Airi, Chisato, dan Saki pergi mengunjungi paman Chisato yang bertempat tinggal di Shibuya sekaligus untuk menghabiskan dua minggu liburan musim panas. Mereka bertiga berangkat ke Shibuya menggunakan kereta yang mereka naiki dari stasiun di Prefektur Saitama. Sesampainya di Tokyo, mereka bertiga di jemput oleh paman Chisato dan segera menuju rumah paman Chisato.

"paman, terimakasih ya sudah mau repot-repot menjemput aku di stasiun" ucap Chisato segera memeluk pamannya

"tidak merepotkan sama sekali kok, sudah, sebaiknya kita bergegas menuju rumah karena bibimu sudah memasak makan malam untuk kalian bertiga" ujar paman Chisato sambil membantu Chisato membawakan tasnya

Merekapun bergegas menuju rumah paman Chisato yang letaknya sekitar 20 menit dari stasiun Shibuya.
Di dalam perjalana, mereka bertiga bersenda gurau dan membahas tentang peringkat yang didapatkan oleh Chisato dan Airi saat ujian semester satu kemarin. Sempat di dalam perbincangan mereka Airi dan Chisato menyinggung tentang kejadian ketika di ruang mading, dimana geng yang sangat terkenal di Akizakura Gakuen bertindak sangat kasar terhadap murid-murid yang sedang melihat nilai mereka yang di pasang di ruang mading.

"aku masih tidak mengerti maksud dari mereka!" seru Airi yang sangat kesal dengan perilaku geng tersebut

"sabar, kau jangan seperti itu dengan mereka" ucap Saki mencoba menenangkan Airi

"bagaimana aku tidak kesal, mereka itu terlalu sombong dan selalu menganggap mereka itu sangat pintar satu sekolah" ujar Airi yang semakin kesal

"aku takutnya mereka akan mencoba melakukan sesuatu yang buruk terhadap aku dan Airi" tambah Chisato yang menunjukkan raut muka khawatir

"melakukan sesuatu yang buruk bagaimana?" tanya Saki

"ya, aku dengar dari salah satu teman sekelasku kalau  geng itu akan memberikan pelajaran bagi siswa/siswi yang berani merebut posisi mereka dalam peringkat" jelas Chisato panjang lebar

"kapan kau di beritahu?" tanya Airi kepada Chisato

"satu hari setelah kita melihat nilai di mading" jawab Chisato

"wah, itu parah sekali!" seru paman Chisato yang tiba-tiba ikut nimbrung obrolan mereka

"iya, aku juga tidak menyangka kalau mereka akan bertindak seperti itu" tambah Saki

"aku jadi khawatir nih, nanti bagaimana nasib kita saat pulang dari Tokyo?" tanya Airi yang terus menantap dengan raut kekhawatiran

"tenang saja, selama dua minggu liburan ini, kalian akan paman beri pelatihan bela diri" ucap paman

"Eee??? pelatihan bela diri?!!!" tanya mereka bertiga secara bersamaan

"iya, tentu saja, paman tidak mau kalau terjadi apa-apa dengan keponakan paman dan temannya" jawab paman dengan senyum yang membuat Chisato, Airi, dan Saki sangat senang ketika mendengar jawaban paman


                                                                 ***

-KEESOKAN HARI-

"hei! Airi! bangun!" seru Saki berusaha membangunkan Airi yang masih tertidur lelap

"hoaaam! aku masih ngantuk.. lagipula ini kan masih pagi-pagi buta, kenapa kita harus bangun pagi?" ujar Airi sambil menarik selimut sampai menutupi mukanya

"kau ini lupa ya? kita kan mau latihan bela diri judo!" seru Chisato yang tiba-tiba datang ke kamar Airi dan Saki dengan membawa ember berisi air

"Hei! kau mau apa bawa-bawa ember segala?" tanya Airi yang segera bangun karena takut disirami air oleh Chisato

    Airi pun bergegas ke kamar mandi dan mencuci mukanya, setelah itu ia segera keluar rumah dan pergi menuju lapangan di dekat rumah paman chisato dengan memakai pakaian khusus yang telah disediakan oleh paman Chisato untuk latihan bela diri.

"oiii,, minnaaa!!!" teriak Airi dari kejauhan memanggil kedua temannya itu dengan berlari sekuat tenaga untuk cepat sampai kelapangan

"issh, kau ini benar-benar lamban sekali sih" ketus Chisato

"hhh~ gomen ne minna, yang penting kan sekarang aku sudah sampai disini dan siap untuk latihan" ucap Airi dengan menunjukkan muka kesal

"sudah-sudah, kalian jangan berkelahi lagi, sekarang akan paman kenalkan pelatih Judo yang akan mengajarkan kalian" ujar Paman mencairkan suasana yang sempat memanas itu

"Pekenalkan, nama saya adalah Ryutaro Morimoto, dalam dua minggu selama liburan musim panas, saya akan melatih kalian bela diri" ujar pria tinggi nan imut itu

"kyaa!! kawaii!!" seru Airi

"haduuh, punya temen kok gini banget sih, bikin malu" bisik Saki kepada Chisato

"iya, betul, bikin malu aja, kita kesini kan mau latihan, bukannya mau godain laki-laki itu" ujar Chisato balik berbisik kepada Saki

"yosh!.. minna, sebaiknya kita mulai saja ya!" ujar pria itu dengan bersemangat

    Sebelum mulai mengajarkan teknik-teknik dalam seni bela diri Judo, Pria tinggi kurus sedikit berotot dan imut itu memberikan sedikit dasar-dasar Judo yang harus di perhatikan dan tidak boleh di abaikan meskipun itu hal kecil, karena apabila di abaikan maka akan fatal bagi mereka yang mempelajarinya. Ia juga mengajarkan bahwa karate yang mereka pelajari itu bukan untuk sesuatu yang buruk dan bukan untuk kejahatan tetapi Judo merupakan seni bela diri khas Jepang yang digunakan untuk melindungi orang-orang yang lemah juga untuk membela diri dari serangan orang-orang yang ingin mencelakakan diri kita. Pada dasarnya semua ilmu bela diri digunakan untuk hal-hal kebaikan. Dengan dasar-dasar tersebut, pria itu berharap bahwa Chisato, Airi dan Saki dapat memahami hal tersebut. 
    Setelah ia menjelaskan panjang lebar tentang dasar-dasar Judo dan hal apa saja yang dilarang dalam seni bela diri ini, akhirnya ia pun mulai mengajarkan teknik dasar Judo yang harus mereka bertiga kuasai. Meskipun teknik dasar Judo bisa dibilang agak mudah, tapi itu mampu membuat lawan kita sedikit kelimpungan. Mereka bertiga berusaha sangat keras untuk bisa menyelesaikan teknik dasar Judo dalam satu minggu dan satu minggu kemudiannya lagi mereka bisa mempraktekkan teknik dasar dengan cara tes satu lawan satu dengan Ryutaro senpai. Berhubung mereka bertiga anak-anak yang pintar dan cerdas, semua teknik dasar yang diberikan oleh Ryutaro senpai bisa mereka serap dengan cepat tanpa ada kesalahan kecil.

                                                                   ***

-SATU MINGGU KEMUDIAN-

"yosh!! minna-san, hari ini saya akan mengetes kemampuan dasar Judo kalian satu persatu" ujar Ryutaro senpai yang berdiri tegap di hadapan mereka bertiga

"ano.. senpai, aku mau tanya dong!" Seru Chisato sambil mengacungkan tangannya

"ya? apa yang ingin kau tanyakan?" ujar Ryutaro senpai

"apakah teknik Judo yang kami pelajari bisa mengalahkan segerombolan Geng yang bisa di bilang mereka itu adalah orang-orang yang tidak boleh di anggap remeh?" tanya Chisato panjang lebar

"hmmm~ kalau hal itu harus dibuktikan terlebih dahulu dengan cara saya akan mengetes kalian satu-persatu" jawab Ryutaro senpai "tapi ngomong-ngomong gerombolan geng yang kamu bilang itu siapa?" Ryutaro senpai pun balik bertanya kepada Chisato

"ah, tidak ada kok senpai, aku hanya berandai-andai saja, siapa tahu aja nanti ada orang-orang yang tidak suka denganku dan ingin menghancurkanku" tegas Chisato

"sebaiknya kita mulai saja senpai tesnya sekarang" ucap Saki yang sudah tidak sabar ingin mengetes kemampuan Judonya

"un, baiklah, kalau begitu senpai ingin mulai bertanding dari Airi terlebih dahulu" ujar Ryutaro senpai menoleh ke arah Airi dengan menebar senyum yang membuat hati Airi berdegup kencang dan gugup

"ano, senpai, sebaiknya jangan aku dulu ya yang di tes, Saki atau Chisato saja yang di tes terlebih dahulu" pinta Airi sambil mengarahkan telunjuknya ke Saki dan Chisato

"hmm,, kalau senpai maunya kamu duluan bagaimana?" tanya senpai dengan nada sedikit menggoda

"aaa!! naaai!! aku bisa gila kalau begini terus!" teriak Airi yang segera berlari meninggalkan lapangan

"hey! Airi! kau mau kemana?" seru Saki sambil menyusul Airi yang terus saja berlari

"Ee?? si Airi kenapa tuh? kok disuruh tes malah lari begitu?" tanya senpai terheran-heran

"yaah, senpai ini gak peka sih, Airi itu suka sama senpai.. ckckck" ucap Chisato

"hah? kok bisa?" tanya senpai lagi

"senpai kebanyakan tebar-tebar pesona kalau sedang bicara dengan Airi, makanya dia jadi begitu" jawab Chisato sedikit bosan dengan suasana di pagi hari saat itu

"padahal senpai gak merasa loh kalau senpai tebar pesona, HAHAHAHA *ketawa ala evil*

"yasudah,, sambil menunggu Airi dan Saki, sebaiknya aku dulu deh yang di tes"


     Akhirnya dari ketiga teman dekat itu, yang maju pertama adalah Chisato, sebelum bertanding satu lawan satu dengan Ryutaro senpai, ia mengumpulkan tenaga dan ketenangan agar saat bertanding ia bisa menang dari Ryutaro senpai sang guru.
Sementara Chisato sedang ujian teknik Judo dengan Ryutaro senpai, Saki masih terus mengikuti Airi yang terus berlari tanpa henti.

"aduh! Airi, berhenti dong larinya! aku udah kelelahan nih gak bisa ngejar kamu lagi" teriak Saki dari belakang

"memangnya ada yang menyuruhmu mengikutiku lari?" tanya Airi

"tidak ada sih, tapi kau tidak bisa meninggalkan Chisato dan Ryu senpai begitu saja" ujar Saki yang masih terus mengejar

"aku tidak bisa melakukannya sekarang" tegas Airi

"kenapa? apakah kau malu berhadapan langsung dengan Ryu senpai?" tanya Saki lagi

Airi yang tadinya berlari kencang, seketika berhenti saat mendengar pertanyaan barusan. Saki yang mengikutinya berlari juga berhenti dan segera menghampiri Airi yang terdiam seperti patung dan tidak bergerak sama sekali.
.
"Airi, sudahlah, sebaiknya kita kembali saja ketempat latihan" pinta Saki

"tapi....." sahut Airi

"kau tidak bisa begini, kasihan Chisato yang menunggu kita, pasti dia sekarang tambah kesal dengan kita"

"tapi aku tidak bisa menghadapi tatapan Ryu senpai" ucap Airi

"ah, kau ini kebanyakan tapi-tapian ya, bikin aku kesal saja" ujar Saki sambil menarik tangan Airi dengan kuat dan memaksanya kembali ke tempat latihan


Dalam perjalanan kembali ke tempat latihan, Saki memberikan semangat dan keberanian kepada Airi agar tidak terbuai dengan pesona Ryu senpai dan fokus kepada tes yang akan di hadapi hari itu.

Hari pun semakin siang dan matahari memancarkan sinarnya yang sangat terik di musim panas tahun ini. Ketiga sahabat itu yang telah usai melakukan ujian Judo pun berniat mengajak Ryu senpai untuk makan siang bersama di sebuah restoran sushi yang terkenal di Shibuya sebagai tanda terimakasih mereka karena ia mau menjadi guru Judo mereka. Sementara itu Airi yang tadinya tidak bisa mengendalikan dirinya dengan Ryu senpai, pada akhirnya bisa mengendalikan dirinya dan bersikap biasa dengan Ryu senpai.

                                                            *** 


"Ryu senpai, maafkan kelakuanku yang tadi pagi ya, aku memang tidak bisa mengendalikan diriku" ujar Airi memecahkan keheningan di dalam restoran itu

"un, tidak usah di permasalahkan lagi, senpai tidak merasa kalau kamu salah" balas Ryu senpai

"Ryu senpai juga sudah tahu kalau kamu suka dengannya" ujar Chisato yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka berdua

"hah? ap..apaa kau bilang? apa itu benar senpai?" tanya Airi dengan gugupnya

"hehehe.. iya, senpai sudah tahu, tapi senpai sudah punya kekasih, gomen ne Airi" jawab Ryu senpai yang merasa bersalah

"oh, begitu" *Airi langsung menunjukkan wajah muramnya*

"gomen ne, Airi, tapi senpai tidak akan melupakan kamu dan yang lainnya, karena kalian termasuk murid senpai yang sangat pandai dan cepat belajar" ujar Ryu senpai yang berusaha menyenangkan hati Airi

"baiklah senpai, kami juga tidak akan melupakan senpai dan ajaran yang senpai berikan kepada kami" *wajah Airi kembali seperti biasa lagi*

"oia senpai, besok kami akan pulang ke Saitama siang hari menggunakan kereta" ujar Saki

"oh benarkah? sayang sekali ya, padahal senpai ingin sekali liburan kalian di perpanjang"

"loh? memangnya kenapa? tanya Chisato

"senpai ingin mengenalkan kekasih senpai dengan kalian" jawabnya

"wah, mungkin lain kali saja ya senpai kalau liburan musim dingin" sahut Chisato

"hmm, baiklah kalau begitu" ^^


     Keesokan harinya, mereka bertiga berangkat menuju stasiun di antar kembali oleh paman Chisato. Kini ketiga teman baik itu mempunyai bekal ilmu bela diri saat tiba di Saitama nanti. Airi dan Chisato pun sudah tidak takut dengan ancaman Geng yang diketuai oleh Ryosuke itu. Mereka berdua akan menghadapi resiko apapun yang akan terjadi nantinya oleh diri mereka.


~ つづく ~

Saturday, 27 August 2011

STOP!! MY FRIEND..!! (Chapter 1)

Title : STOP!! My Friend..!!

Genre : School, friendly

Author : Dwitya Andini (Chinen Yumeko)

Main Cast : From ℃-ute => Airi Suzuki, Saki Nakajima, Chisato Okai

Supporting Cast : From AKB48 => Misaki Iwasa, Aika Ota, Ami Maeda, Mayumi Uchida, Ayaka Kikuchi, Tomomi Nakatsuka, Reina Fujie, Haruka Ishida, Mika Komori, Sumire Sato, Rena Chikano, Maria Abe, Miori Ichikawa, Anna Iriyama, Haruka Shimazaki, Mariya Nagano, Mariko Nakamura, Anna Mori, Suzuran Yamauchi, Rina Kawaei, Tomu Mutou, Natsuki Kojima
From B.I.Shadows => Yuma Nakayama, Kento Nakajima, Hokuto Matsumura, Fuma Kikuchi, Yugo Kouchi
From Hey!Say!JUMP => Ryosuke Yamada, Yuto Nakajima, Keito Okamoto

---------------------------------------------------------------------
         Disebuah Sekolah yang cukup terkenal di Prefektur Saitama yaitu Akizakura Gakuen, terdapat tiga pelajar siswi yang berteman dekat, mereka adalah Airi, Chisato, dan Saki. Selama satu tahun sejak berkenalan di bangku kelas satu sekolah menengah Akizakura Gakuen, ketiganya mempunyai prestasi yang baik di kelas mereka, sampai saat mereka berpisah karena satu diantara mereka mengambil jurusan yang berbeda ketika nanti kenaikan kelas yang menentukan kemana mereka ingin mengambil jurusan itu. Airi dan Chisato lebih memilih jurusan yang berkenaan dengan ilmu-ilmu sosial dan ekonomi, sedangkan Saki mencari jalannya sendiri yaitu ia lebih memilih untuk mengambil jurusan yang bersifat teknologi dan yang berkenaan dengan alam. Chisato yang bisa dibilang sangat dengat dengan Saki, merasa sangat sedih karena tidak bisa satu jurusan dengan Saki. Ia pun mecoba membujuk Saki agar pindah jurusan sama seperti dia, tapi Saki tetap pada pendiriannya.

"Sudahlah Chisato, kamu tidak usah sedih begitu, lagipula masih ada Airi yang satu jurusan denganmu" ujar Saki berusaha meyakinkan Chisato

"Iya, kau benar, tapi kau tahu sendirikan, aku tidak begitu dekat dengannya meskipun kita bertiga berteman dekat" ucap Chisato dengan raut muka cembetut

"tapi mau bagaimana lagi? aku tidak mungkin pindah jurusan karena aku memang menginginkan jurusan yang kupilih ini sejak dulu" Ujar Saki tetap pada pendiriannya. "aku akan bicara pada Airi agar dia mau menjagamu"bisik Saki kepada Chisato

"Ah! Kuso! kau meledekku lagi, kau pikir aku anak kecil yang butuh perlindungan" sahut Chisato dengan nada kesal

       Sementara Chisato dan Saki asik bercanda di bangku kantin, Airi datang menghampiri mereka dengan membawa tiga piring lauk untuk makan siang mereka bertiga.

"Hei! kalian berdua, tolong bantu aku membawakan satu piring lauk ini, aku kerepotan nih, udah berasa kayak pelayan aja!" teriak Airi dari kejauhan memanggil kedua temannya itu

"Uwaa!! gomen ne Airi-chan, sini biar aku bawakan piring yang satunya lagi" ujar Chisato yang segera menghampiri Airi dan mengambil satu piring yang ada di tangan Airi

"Kalian sedang membicarakan apa sih? keliahatannya seru" tanya Airi sembari duduk disebelah Saki

"itu loh, si Chisato, dia menyuruhku untuk pindah jurusan yang sama dengan kalian" jawab Saki

"owalah, aku kira kalian sedang membicarakan hal yang seru" ucap Airi tidak menghiraukan perkataan Saki

      Waktu berlalu begitu cepat semenjak percakapan terakhir mereka di kantin. Kenaikan kelaspun tiba, dan akhirnya mereka bertiga berpisah, tapi untungnya Airi dan Chisato benar-benar satu kelas lagi. Saat pertama kali memasuki kelas baru itu, Chisato merasa risih karena teman-teman satu kelasnya yang sekarang adalah irang-orang yang sukar di atur, berbeda dengan kelas sebelumnya yang penuh dengan anak-anak yang baik dan penurut. Airi yang sejak pertama masuk terus saja menggerutu membuat Chisato kesal, ia segera beranjak dari bangkunya dan mengajak Airi untuk keluar dari kelas itu dan menuju ke kelas Saki. Derap langkah mereka berdua terdengar kencang di setiap koridor kelas jurusan teknologi dan alam yang mereka lewati. Koridor kelas yang mereka lewati sangat sunyi dan tidak ada satupun yang keluar dari kelasnya sekedar untuk izin ke toilet, hal ini sangat berbeda dengan koridor kelas-kelas jurusan sosial yang ramai dengna murid-murid yang keluar masuk kelas baik itu ada guru ataupun tidak ada guru.

"beda sekali ya dengan kelas yang kita tempati sekarang" ujar Airi memecah keheningan saat itu

"tentu saja, murid-murid di jurusan teknologi dan alam sibuk dengan pekerjaan mereka yang aneh-aneh itu" sahut Chisato sambil terus berjalan menuju kelas Saki

"kalau begini caranya, aku menyesal sudah memilih jurusan yang sekarang" ujar Airi lagi

      Sementara Airi terus berbicara tanpa henti, Chisato terus saja berjalan tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh Airi sepanjang jalan hingga mereka sampai di kelas Saki.
Sesampainya mereka di sana, Airi melambaikan tangannya kepada Saki yang berada di kelas dan kebetulan sedang menoleh ke arah koridor. Saki pun segera keluar kelas dan menghampiri mereka berdua.

"ne, minna ada apa kalian datang ke kelasku?" tanya Saki kepada mereka berdua

"Hhh~ kau tidak tahu sih, kami ini sedikit mendapat kesulitan" ujar Airi sambil mendesah

"kesulitan apa?" tanya Saki lagi

"kau harus melihat keadaan kelas kami yang sekarang ini sangat buruk dan lebih parah dari sebelumnya!" tegas Chisato

"memangnya ada apa di kelas kalian? aku jadi penasaran ingin melihatnya" ucap Saki sedikit meledek

"kami sedang mendapatkan sial, kelas yang kami berdua tempati sekarang berisi anak-anak yang sulit diatur dan menyebalkan, aku sangat benci orang-orang seperti itu" ujar Chisato ketus

"Ee? kok bisa sih?" tanya Saki terus menerus

"gak ngerti juga tuh!" seru Saki dan Airi bersamaan

"yasudah, kalian tidak usah kesal begitu dong, ini kan baru pertama kalian masuk di kelas itu, kita lihat saja perkembangan selanjutnya" ucap Saki mencoba menenangkan mereka berdua

                                                        ***
      Keesokan harinya, Chisato dan Airi menjalankan kegiatan sekolah seperti biasanya dan mereka juga mulai mencoba membiasakan diri dengan situasi di kelas baru mereka. Pertama-tamanya memang sangat aneh bergaul dengan orang-orang seperti itu, murid-murid di kelas itu seperti orang-orang yang bermuka dua, di depan baik tetapi dibelakang saling menikam satu sama lainnya. Meskipun begitu, masih ada diantara mereka yang ingin bergaul dengan Airi dan Chisato yang bisa dibilang tidak mempunyai teman dekat di kelas itu. Setelah mereka melewati hari-hari yang melelahkan di semester pertama, akhirnya tiba saatnya ujian di semester satu diadakan. Chisato dan Airi berusaha keras belajar mati-matian untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan masing-masing, tetapi sementara mereka berdua belajar dengan sungguh-sungguh, teman-teman di kelasnya sibuk menyalin contekan dan tidak belajar maksimal seperti mereka berdua.

"mereka menyebalkan sekali sih" ujar Airi tiba-tiba

"menyebalkan? maksudmu? memang mereka sudah menyebalkan dari dulu, ahahahaha..." jawab Chisato sambil tertawa

"issh, kau ini, aku serius nih!" seru Airi

"iya, iya, gomen ne.. kita lihat saja, siapa yang akan mendapatkan nilai bagus nanti"

"sudah pasti mereka lah"

"kata siapa?"

"kata mbah mu.." jawab Airi dengan candaan

"dasar kau ini, terkadang autismu kumat ya"

                                                              ***

-SATU MINGGU KEMUDIAN-

    Setelah satu minggu berlalu dan mereka berduapun melewati ujian itu dengan hati yang lega dan merasa tidak ada beban lagi. Seperti biasa, setelah minggu ujian untuk semester satu selesai, nilai-nilai para murid pun di pasang di mading sekolah. Para murid berkerumun di tempat mading itu di letakkan untuk melihat peringkat mereka masing-masing. Airi dan Chisato pun segera mendatangi mading itu dengan tergesa-gesa.

"Chisato, lihat! kau ada di peringkat 2 satu angkatan kita.. sugoi yo!" ujar Airi dengan mata berbinar-binar

"kau juga ada di peringkat 3, kau juga hebat Airi-chan" balas Chisato segera memeluk Airi

Tiba-tiba saja, geng yang sangat terkenal dengan keeksisannya datang dan melihat daftar peringkat di mading itu. Dengan kasarnya mereka menyuruh semua anak yang sedang melihat peringkat mereka minggir untuk memberikan mereka jalan. Geng di sekolah Akizakura Gakuen ini memang patut di perhitungkan karena mereka terdiri dari anak-anak yang pintar dan juga bermuka dua.

"kyaaa!!! kenapa semua ini bisa terjadi!" teriak salah satu anggota dari geng itu yang bernama Ryosuke

"ini tidak bisa dibiarkan! kau kan mendapat peringkat satu di kelas kita, dan lagipula kelas kita juga unggulan, kenapa kau tidak masuk di daftar peringkat satu sekolah?" ujar Reina, wanita yang berdiri disamping Ryosuke itu


"tapi tidak apa-apa, yang penting si Sumire masih berada di peringkat satu" ujar Ryosuke

"Ee? si Sumire itu kan bukan dari kelas kita, kenapa kau malah setuju saja kalau ia mendapatkan peringkat yang seharusnya kau dapatkan?" tanya Aika, yang termasuk kedalam salah satu geng Ryosuke itu

"tidak apa-apa, Sumire masih termasuk dalam anggota geng kita, yang harus kita singkirkan adalah orang yang ada di peringkat dua dan tiga itu" jawab Ryosuke yang menunjukkan wajah licik dan jahat

"ya, kita harus membalas mereka berdua, tapi bagaimana caranya?" tanya Yuma yang termasuk anggota Geng Ryosuke

"kita lihat saja nanti, aku akan membuatnya bisa bertemu dengan kita di tahun berikutnya.. hahahahaha!!" *ketawa ala evil*


                                                       ***
Sementara itu, Chisato dan Airi yang sudah pergi meninggalkan ruang mading, tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para anggota geng itu. Demi merayakan keberhasilan mereka masuk kedalam peringkat tiga besar satu angkatan dan satu jurusan, mereka mengajak Saki untuk berlibur ke Tokyo saat liburan musim panas yang sebentar lagi tiba. Mereka bertiga sangat gembira dengan keberhasilan mereka itu, tapi ini merupakan hal menyedihkan bagi Saki yang tidak bisa meraih peringkat teratas seperti kedua temannya itu. Namun, dibalik kegembiraan mereka saat ini, akan ada bencana besar yang sedang menunggu Chisato dan Airi di tahun mendatang.


~ つづく ~

Tuesday, 14 June 2011

Beautiful Place

selamat membaca ^.^v


Judul                      : Beautiful Place
Pemeran Utama         : Chinen Yuri (Hey!Say!JUMP)
                                   Kawashima Umika
Genre                       :  Fantasy
Author                     :   Tya

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu hari di sebuah sekolah Jepang ternama, ada dua orang murid yang bersahabat sejak tahun pertama mereka masuk ke dalam sekolah itu sampai sekarang, mereka adalah Chinen (17 tahun) dan Umika (17 tahun). Kedua sahabat itu merupakan Ketua dan wakil dari club yang meneliti berbagai macam kebudayaan yang ada di Jepang maupun di dunia.

“hei, Umika!” seru seseorang yang berada di dekatnya

“ada apa chii?” tanya Umika menoleh ke arah sebelah kirinya

“kenapa kau terus memandangi keadaan di luar?” Chii malah balik bertanya

“aku hanya merasakan keanehan pada cuaca hari ini” jawab Umika

“ah, kau terlalu banyak mengkhayal” ujar Chii yang tidak menghiraukan perkataan Umika dan meneruskan membuat angsa dari kertas origami

“issh.. dasar kau menyebalkan!” gumam Umika sambil terus memerhatikan cuaca di luar


Kegiatan belajar di sekolah hari itu masih berjalan dengan normal dan lancar seperti biasanya. Sepulang sekolah, mereka berdua menyempatkan ke tempat club kebudayaan yang berada tepat di halaman belakang sekolah. Club kebudayaan memang sedikit yang berminat, sehingga pihak sekolah menempatkan ruangan untuk club kebudayaan di halaman belakang sekolah. Walaupun pihak sekolah memutuskan untuk meletakkan club kebudayaan di halaman belakang, mereka berdua tetap menganggap club kebudayaan adalah club yang eksklusif.


‘Ceklek..’ Umika dan Chinen membuka pintu ruangan club kebudayaan, di sana mereka hanya mendapati dua orang anggotanya sedang mengutak-atik laptop dengan menunjukkan raut wajah kebosanan.


“kalian kenapa sore-sore masih berada di sini?” Tanya Chii pada kedua anggotanya itu

“kami hanya sedang mecari informasi terbaru tentang kebudayaan luar yang belum kita ketahui” jawab salah satu dari kedua orang itu

“oh.. sebaiknya sekarang kalian pulang kerumah, cuaca di luar sedang tidak mendukung” perintah Umika pada mereka sambil menutup laptop yang sedang menyala

“baiklah!” seru kedua murid itu berjalan keluar ruangan

KRIK! KRIK! tiba-tiba suasana ruangan itu menjadi hening.

“hooaaam… sebaiknya kita pulang saja Umika” ucap Chii seraya meninggalkan ruangan

“tunggu, Chii!” seru Umika menyeret Chii masuk ke dalam ruangan lagi

“aah! Kau ini apa-apaan sih? Ada apa lagi?” Tanya Chii dengan raut muka sedikit kesal

“coba kau lihat kearah sana!” *menunjuk tangannya kearah sebuah lubang besar di dekat semak-semak *

“yang mana sih?” Tanya Chii celingak-celinguk

“aah.. mata kamu itu minus berapa sih? Itu tuh lubang besar yang ada di sana!”seru Umika. “sebelumnya kan lubang itu tidak ada” tegasnya lagi

“iya, kau benar! Bagaimana kalau kita keluar untuk melihatnya?” ujar Chii sambil menarik tangan Umika untuk ikut keluar melihat lubang aneh itu

Dengan berhati-hati, mereka berdua mendekati lubang besar nan aneh itu. Chinen yang penasaran ada apa di dalam lubang itu pun memasukkan kepalanya ke dalam lubang tersebut.


‘Jleeeeeb!’ tiba-tiba lubang itu menarik seluruh tubuh Chii ke dalam sana, dengan cepat Umika menggenggam tangan Chii dan berusaha untuk menariknya ke atas, tetapi Umika yang berusaha keras berpegangan di batang pohon pun ikut terperosok ke dalam lubang itu.

***
Suara burung berkicau merdu menandakan bahwa pagi telah tiba. Umika yang tidak sadarkan diri mulai terbangun dengan sedikit sakit di kepalanya karena terkena benturan.

“Chinen..!Chinen..!” teriak Umika di telinga Chii sembari menepuk pipi Chii yang masih tidak sadarkan diri

“a..a.. apa yang terjadi?” Tanya Chii yang masih setengah sadar

“aku juga tidak tahu Chii, seingat ku, kita terperosok ke dalam lubang dan sekarang aku tak tahu dimana kita berada” jelas Umika sembari membantu Chii berdiri

“tempat ini sangat asing bagi kita, hutan belantara ini sangat menyeramkan” ujarnya sedikit ketakutan. “sebaiknya kita keluar dari hutan belantara ini dan mencari bantuan” ucapnya lagi

“un.. baiklah” ujar Umika sambil membopong Chii yang kakinya terkilir


Dengan tertatih-tatih mereka berdua berjalan menyusuri setiap jalan di hutan itu dan berharap ada yang bisa membantu mereka keluar dari sana. Terik matahari yang menyengat seakan ingin menghentikan langkah mereka, namun mereka tetap terus berjalan. Ketika mereka sedang sulit-sulitnya berjalan, tiba-tiba dari arah berlawanan tampak seorang gadis berlari terengah-engah diikuti dengan seekor kucing berwarna putih bergaris hitam.


“heeii!!” seru Chii memanggil gadis tersebut dan segera menghampirinya bersama dengan Umika

“siapa kau?” Tanya gadis itu sambil mengerutkan alisnya dengan raut muka heran

“kami tersesat di hutan ini” ujar Chii

“tapi, sepertinya kalian bukan orang yang berasal dari daerah ini” tegas gadis berambut ikal itu

“ya, kami memang bukan berasal dari sini… Kami berasal dari Tokyo” sahut Umika

“hah? Tokyo katamu?!” gadis itu pun tersontak kaget

“i..iya.. kenapa kau kaget?” Tanya Umika mengerutkan alisnya

“di sini itu Pulau Nias” ucap gadis itu sedikit tersenyum

“hah?! Pulau Nias?!!” teriak Chii dan Umika

“un, Pulau Nias yang berada di Negara Indonesia” tegas gadis itu lagi

“Kalau Indonesia aku tahu, ibuku pernah bertugas ke sana, tapi kupikir di Indonesia hanya ada Pulau Bali dan Jakarta saja” ujar Umika sambil menggaruk-garuk kepalanya kebingungan

“hmm.. aku akan membantu kalian untuk pulang ke rumah kalian, tapi, bagaimana kalian bisa sampai datang ke sini dan di hutan pula lagi?”

“jadi begini…” Umika dan Chii mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya menimpa mereka kemarin sore bahwa ada sebuah lubang besar dan aneh di taman belakang sekolah mereka.
Ketika Chii dan Umika menjelaskan kepada gadis itu, tiba-tiba ia memotong pembicaraan Chii dan Umika.

“tunggu sebentar!” seru gadis itu seperti mengingat sesuatu

“ada apa?” Tanya Umika

“aku ingat, kalau sebenarnya kemarin sore, di daerah tempat tinggalku juga ada lubang yang seperti itu, ayahku yang melihatnya” jelas gadis itu. “sebaiknya kita segera menemui ayahku untuk meminta penjelasan soal lubang yang kemarin kalian lihat itu” jelasnya lagi

***

Sesampainya mereka di tempat tinggal gadis itu, Chii dan Umika di persilahkan masuk ke dalam rumahnya dengan menaiki lima anak tangga dan masuk ke dalam rumahnya melewati sebuah pintu horizontal yang terletak di pintu rumah dengan daun pintu membuka ke atas. Rumah itu terasa sedikit menakutkan, di dalam ruang tamunya terdapat ukiran-ukiran kayu yang sangat halus dan diukirkan pada balok-balok utuh.

“Chii,, rumah ini sedikit menakutkan” bisik Umika perlahan ke telinga Chii

“menurutku design rumah ini sangat unik, di Jepang saja tidak ada yang ukirannya sebagus ini” ujar Chii dengan nada meledek

“laah.. kau ini” *jitak kepala Chii*

“apa kalian baik-baik saja?” Tanya seorang lelaki tinggi besar dengan baju sedikit kusam yang di pakainya dan berjalan menghampiri mereka berdua

“perkenalkan, ini adalah ayahku” ujar gadis itu sembari menuguhkan makanan dan minum untuk mereka berdua

“perkenalkan, saya adalah Chinen dan ini Umika” ujar Chii dan Umika bersamaan sambil membungkuk 90º

“ee? Kenapa kalian membungkuk? Kalian kan tidak salah” ucap Gadis ikal itu

“hmm.. kami tidak sedang minta maaf, ini memang sudah menjadi kebudayaan kami, orang-orang Jepang biasa melakukan ini untuk menghormati lawan bicara ketika hendak memperkenalkan diri” jelas Chii panjang lebar

“oh begitu, aku jadi ingin sekali mengenal budaya kalian, sepertinya menarik” ujar gadis itu dengan senyuman

“aa.. justru kami yang ingin sekali mengenal budaya di Pulau Nias ini” tegas Umika membalas senyum gadis itu

“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi dengan kami dan bagaimana kami bisa sampai di sini?”

“sebenarnya, lubang yang kalian masuki itu adalah lubang dimensi ruang di mana kalau kalian memasuki lubang itu, kalian akan terperosok ke daerah yang tidak dapat kalian duga, ya, seperti yang kalian alami sekarang” ujar ayah gadis itu menjelaskan pada Umika dan Chinen

“lalu, bagaimana kalau kami ingin kembali ke tempat kami berasal?”

“saya juga bingung, tapi biasanya, lubang itu akan kembali muncul di tempat dimana kalian terperosok kemarin”

“baiklah, kami akan menunggu sampai lubang itu kembali muncul” ucap Umika sedikit kecewa

“oh ya, besok masyarakat di desa kami akan mengadakan pesta adat, bagaimana kalau kalian ikut bergabung dengan kami?” ajak ayah gadis itu

“un, kami setuju, kami juga ingin mengenal kebudayaan yang ada pada masyarakat Nias ini” ujar Chii antusias.

“tapi ngomong-ngomong, kalian tidak memiliki sumpit ya?” *masang tampang bertanya-tanya*

“memang kalau di Jepang harus memakai sumpit ya untuk makan?” memang sumpit itu yang seperti apa?” Tanya gadis itu terus menerus

“ya, kami terbiasa makan dengan sumpit. Sumpit itu adalah alat yang di gunakan untuk mengambil makanan dan terbuat dari kayu, cara menggunakannya dengan di capit”

“oh begitu toh”

“tapi, ini makanan apa ya?” Tanya Umika terheran-heran

“ah, itu namanya godo-godo dan loma” jelas gadis itu. “godo-godo adalah makanan khas daerah kami yang berasal dari ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus, setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut, sementara kalau loma dibuatnya dengan beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu” tambah gadis itu lagi.

***

Keesokan harinya, pesta adat yang dibicarakan kemarin oleh gadis itu pun dimulai. Masyarakat yang ada di desa itu mulai berkerumun menikmati acara yang di suguhkan oleh pengisi acara yang menampilkan berbagai macam kesenian, seperti tari perang, tari moyo, dan lompat batu yang sangat terkenal di kalangan masyarakat desa tersebut. Pada hari itu, hal yang serupa terjadi kembali, cuaca hari itu sangat mendung sehingga acara pesta itu tidak berjalan dengan lancar. Umika yang merasakan keanehan seperti kemarin mempunyai firasat bahwa lubang itu akan kembali muncul. Dengan secepat kilat, Umika memberitahu Chinen.

“Gadis berambut ikal!” panggil Chii kepada gadis Nias itu

“ya ada apa? Kau butuh sesuatu?” tanyanya pada Chii

“ya, sepertinya hari ini kami bisa kembali ke tempat asal kami” jelas Chii

“bagaimana kau bisa tahu kalau lubang itu muncul kembali?” Tanya si gadis ikal itu lagi

“sebaiknya kau tidak usah banyak tanya, cepat antar kami ke tempat di mana kita bertemu sebelumnya, aku takut lubang itu akan hilang lagi nantinya” Ujar Umika dengan menarik Chii dan gadis itu menuju arah hutan

***

Sebelum pergi ke hutan itu, Chinen dan Umika menyempatkan berpamitan kepada masyarakat di desa itu yang telah menyambut mereka dengan senang hati. Setelah itu mereka bertiga bergegas ke hutan untuk menemukan lubang besar itu. Ternyata benar firasat Umika, bahwa lubang itu kembali muncul di tempat yang sama. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk segera masuk kelubang itu.
“terimakasih gadis berambut ikal, kau telah memperkenalkan kami akan budaya Nias yang sangat bagus” Ujar Chii


Sebelum gadis itu menjawab, Chinen dan Umika sudah hilang dari pandangan gadis itu. Pengalaman ini tidak akan pernah terlupakan oleh mereka berdua, bahkan mereka menceritakan semua kejadian yang mereka alami kepada teman-teman di sekolahnya. Kini mereka juga mulai menyukai dan mencari tahu berbagai macam kebudayaan yang ada di Indonesia.         
***

-Tamat-

Sunday, 5 June 2011

Never Forget About You

Cast : Inoo Kei from Hey!Say!JUMP
: Maimi Yajima from C-ute

Genre : Romance

Author : Yumeko

Disclaimer : ff yang kali ini kado ultah dari aku  untuk  Inoo kei, gak bermaksud untuk menyatukan inoo sama maimi, cuma karena mereka berdua lahir di saitama dan cuma beda 2 tahun aja, aku jadi kepikiran buat ff ini.. buat fans nya inoo, gomen kalo gk suka >/\<


--------------------------------------------------------------------------------

Bulan Juni kali ini sudah memasuki musim semi di Jepang, langit Jepang yang di kelilingi awan biru menyertai gugurnya bunga sakura yang menambah suasana hangat di tempat latihan para member hey say jump. Mereka semua sibuk latihan untuk mempersiapkan konser yang akan di selenggarakan pada bulan agustus sampai september nanti. Sementara para member yang lain sedang sibuk latihan, Inoo-chan malah asik-asikan kirim email dari handphone nya.

"heeey Inoo-chan!, kau jangan asik email-email-an saja di situ" teriak yabu-kun dan mengambil handphone Inoo-chan dari tangannya



"naaaaai!!! jangan main sembarangan ambil barang-barang aku dong" sahut Inoo beranjak dari duduknya

"makanya jangan email-email-an terus sama cewe" ujar yabu sambil menyeret Inoo untuk ikut latihan

"ee?? Inoo udah punya pacar toh?" tanya chii tiba-tiba nimbrung omongan yabu dan inoo

"emang kamu belum tahu ya kalau si Inoo udah punya cewe.. eh, bukan deh, baru pendekatan aja" bisik yabu ke telinga chii

"waaahh! berita bagus nih buat di sebarin sama member yang lain" sembari ngeloyor ke tempat member JUMP yang lain

"chii!!!! jangan bilang!" teriak inoo menarik baju chii

"lho? kenapa deh? kan biar seru, ternyata inoo si meiji boy bisa juga pny pacar"

'MAYOUNAKA NO KAABOOI NI NATTE...' tiba-tiba handphone yang berwarna biru langit berdering

"ee? inoo, handphone kamu bunyi tuh" sahut Hika dari kejauhan

Dengan secepat kilat Inoo mengambil handphone biru langitnya dari meja di dekat yabu-kun, dan ia segera membuka handphonenya untuk membaca email yang masuk dari seseorang.

(New email)
| from : Maimi-chan
  Konnichinoo ^.^
  Inoo-kun, hari ini aku ingin bertemu denganmu
  sepulang kau latihan. apakah bisa?

(reply)
| From : Inoo
 To      : Maimi-chan
 Konnichiwa maimi-chan,
 baiklah, aku bisa, aku pulang latihan sekitar jam 4 sore
 kita akan bertemu dimana?

(New message)
| From : Maimi-chan

 Aku tunggu kamu di taman biasa ya! ^.^
 Jaa, mata ne~

(reply)
| From : inoo
 To      : Maimi-chan
 un, Mata ne~

Setelah menerima email dari Maimi yang mengajaknya untuk bertemu, dengan tiba-tiba Inoo menjadi lebih bersemangat untuk latihan dan sekitar pukul 3.30 sore waktu setempat ia meminta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan ingin bertemu dengan seseorang.
-------------------------------------------------------------------------------

_Di Taman_

Inoo yang sudah lebih dulu datang ke taman itu, menunggu Maimi dengan sabar dan sesekali membuka handphonenya untuk melihat apakah ada email dari Maimi atau tidak. "kenapa Maimi lama sekali sih? ini kan sudah pukul 4.15, kenapa dia belum datang juga?" gumam inoo sendiri sembari duduk di bangku taman.

"Inoo-kun!" terdengar suara dari kejauhan yang memanggil namanya

"Maimi!" gumam Inoo segera menghampiri Maimi

"aah.. gomen aku telat" ujar Maimi sambil memberikan sebuah tas

"iie, daijoubu da~, tapi apa isi yang ada di tas ini?" tanya Inoo

"sebenarnya aku memintamu datang kesini untuk memberitahukan suatu hal"

"apa yang ingin kau katakan?"

"etto..etto.. aku mendapatkan beasiswa ke Paris untuk melanjutkan study ku"

"apa? kenapa mendadak seperti ini?" mata inoo terbelalak ketika mendengar penjelasan dari Maimi

"sebenarnya hal ini sudah lama ingin aku beritahu padamu, hanya saja..."

Tiba-tiba Maimi menghentikan ucapannya dan air mata mulai membasahi pipinya. Inoo segera memeluknya, "sudah jangan menangis lagi, kalau itu yang terbaik untuk kita berdua" ujar Inoo sambil mengelap air mata Maimi.

"tapi.. tapi berangkat ke Paris saat hari ulang tahun mu, dan aku tidak ingin melewatkan hari ulang tahun mu" ujar Maimi memeluk Inoo lagi

"daijoubu Maimi-chan~, kamu jangan terlalu memikirkan diriku, sebaiknya kau raih impianmu untuk pergi ke Paris"

"tapi..."

"ah, sudahlah, kau jangan kebanyakan tapi-tapian, bagaimana kalau besok kita mengadakan satu hari khusus untuk merayakan keberhasilanmu ke Paris?" ajak Inoo

"ee?? nanti bagaimana dengan latihanmu? kau kan harus latihan untuk konser nanti dan pasti kau juga banyak tugas kuliah yang harus di selesaikan"

"tenang saja, aku akan menghandle semuanya, apa kau tidak mau menghabiskan waktu terakhirmu denganku?" tanya inoo dengan raut wajah menggoda

"un, baiklah kalau begitu" ujar Maimi menggenggam erat tangan inoo

-------------------------------------------------------------------------------

_Ashita_

Pagi ini Maimi dengan mengenakan gaun berwarna biru langit menunggu Inoo di depan rumahnya dengan gelisah, sesekali ia membetulkan pita merah yang terikat di rambutnya. setelah menunggu beberapa menit, akhirnya tampak seorang pria dengan mengenakan kemeja biru langit dan jeans hitam lari terengah-engah menuju rumah Maimi.

"hhh~ hhh~ Maimi-chan, ohayou, gomen aku telat" ujar inoo terengah-engah

"un, daijoubu~"

"yosssh! ayo kita bersenang-senang hari ini!" seru inoo sambil menggenggam tangan Maimi

"Inoo-kun, hari ini aku ingin pergi ke planetarium" ujar maimi

"ee? kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi ke sana?" tanya Inoo terheran-heran

"setelah kau ke sana, nanti kau juga akan tahu" ujar Maimi mendahului langkah Inoo

Dengan menggunakan bus mereka segera sampai ke tempat planetarium. Sesampainya di planetarium Maimi segera masuk ke dalam tempat dimana ia bisa melihat berbagai macam rasi bintang dan ia merebahkan tubuhnya di sebuah bangku sambil menengadahkan kepalanya, Inoo yang terheran-heran dengannyapun mengikutinya duduk di samping Maimi yang penuh dengan raut sedih bercampur bahagia.

"sebenarnya, kau suka melihat rasi-rasi bintang ya?" tanya Inoo memulai percakapan

"un, coba kau lihat rasi bintang itu!" tangan Maimi menunjuk ke arah salah satu rasi bintang

"yang mana?" dengan bodohnya Inoo bertanya

"tiga bintang yang paling bersinar" tegas Maimi

"memang itu namanya rasi bintang apa?"

"itu adalah rasi bintang orion salah satu rasi bintang favoritku"

"eh? kenapa kau bisa suka dengan rasi bintang itu?"

"karena orion adalah sebuah rasi yang memiliki bintang-bintang yang bernama Betelgeuse, Betelgeuze, Betelgeux, Mankib, Al Mankib dan arti dari masing-masingnya adalah rumah dan bahu" jelas Maimi pada Inoo

"aku tetap tidak mengerti" bisik Inoo

"orion itu melambangkan dirimu Inoo-kun" Maimi balik berbisik

"lha? emang apa hubungannya?"

"hh~ dasar baka! kau bagaikan rumah kedua bagiku dan kau tempatku bersandar"

Mendengar perkataan Maimi barusan, Inoo jadi tersadar betapa penting dirinya bagi Maimi. Di dalam hatinya pun ia juga belum merelakan sepenuhnya Maimi untuk pergi ke Paris tapi di satu sisi, ia tidak menginginkan kalau wanita yang di sayanginya tidak dapat meraih impiannya.

"Inoo-kun, sebaiknya kita pulang saja ya" ujar Maimi memecahkan keheningan

"baiklah"

"oh ya Inoo-kun, hari ini adalah tanggal 24 Juni, dua hari lagi ulang tahunmu dan besok merupakan hari keberangkatanku ke Paris, aku harus bagaimana?"

"berangkatlah Maimi, aku tidak akan melarangmu dan kau tidak perlu memikirkan diriku"

"tapi.. aku tidak ingin meninggalkanmu"

"tenang saja, nanti kalau kau rindu padaku kau tinggal ke planetarium yang ada di Paris"

"eh? untuk apa?"

"untuk melihat rasi bintang orion di sana, dan anggaplah orion itu sebagai aku yang akan terus menjadi sandaranmu dan menerangi hari-harimu di Paris nanti" ujar Inoo tersenyum

"un.. baiklah, pasti rinduku padamu akan terobati" Maimi membalas senyuman Inoo dengan sebuah kecupan di pipi Inoo

"yosh! ayo kita pulang" seru Inoo beranjak dari tempat duduk dan segera meninggalkan ruangan planetarium bersama Maimi.


Keesokan harinya, Inoo beserta member Hey!Say!JUMP dan C-ute mengantar keberangkatan Maimi di bandara Narita International. Sebelum berpamitan dengan Inoo yang lainnya, Maimi menyerahkan sebuah kotak berwarna biru langit pada Inoo. Maimi menyuruhnya membuka kotak itu setelah ia pergi ke Paris.

"aku akan terus ingat padamu Inoo-kun, jangan lupa untuk membuka kotak itu di hari ulang tahunmu nanti ya" ujar Maimi menebar senyum pada Inoo

"tentu saja, ini kan kado ulang tahun darimu, aku pasti akan merindukanmu Maimi-chan"

"un, baguslah kalau begitu"

Maimi pun memeluk Inoo erat seakan tidak ingin melepasnya untuk terakhir kali dan seraya masuk ke dalam bandara sambil melambaikan tangannya pada member Hey!Say!JUMP dan C-ute.

-------------------------------------------------------------------------------

_22 JUNI 2011_

"Otanjoubi omedetou Inoo-kun!!!!" seru para member Hey!Say!JUMP seraya meniup terompet di telinga Inoo-kun

"hai.. arigatou minna~ wah, aku benar-benar tidak menyangka kalian membuat pesta ulang tahun untukku" ujar Inoo sambil membungkukkan badan 90 º

"oia Inoo-chan, kalau tidak salah sebelum berangkat ke Paris, Maimi memberikan sebuah kotak padamu, kenapa kau tidak membukanya?" tanya yabu

"iya, ini aku ingin buka kotak darinya" ujar inoo sambil membuka kotak biru langit itu

Inoo terkejut ketika membuka kotak pemberian Maimi itu, ternyata isi kotak itu adalah buku yang berisi kumpulan-kumpulan rasi bintang, di dalam kotak itu juga terdapat sebuah surat dari Maimi yang menyuruhnya agar terus berusaha meraih impiannya sebagai seorang arsitek yang handal dan tidak mudah putus asa.


SELESAI

Saturday, 21 May 2011

(Seikatsu no Sichi Kyodai) Ending

Cerita sebelumnya :

-Di dalam Mobil-

"hei, Maru, menurutmu yang mana Okazaki itu?" tanya yama-chan dengan berbisik di telinga Maru

"kalau menurutku yang gemuk itu, soalnya  dari badannya aja udah keliatan dia suka makan pake duit haram.. hahahaha" sahut maru sambil tertawa

"iya, menurutku juga begitu, lagian aneh kan kalo yang kurus itu ternyata si Okazaki, tapi kira-kira pria yang satu lagi siapa ya?" tanya Yama-chan dalam hati


***********************************************************************************


YamaP sangat berhati-hati dalam menyetir mobil menuju rumah bersama para saudaranya dan juga Okazaki si lintah darat itu. Ia tidak mau kalau sampai para penjahat itu melukai para saudaranya walaupun mata dan tangan mereka diikat dengan erat. Suasana di dalam mobil pun sangat hening dan tidak ada satupun di antara mereka yang mengeluarkan sepatah dua patah kata.

Sesampainya mereka dirumah, Tanaka sudah terlihat menunggu mereka di depan pintu masuk, ia juga penasaran dengan sosok orang yang telah menghancurkan keluarga majikannya itu.

"selamat datang Tuan muda" sapa Tanaka pada kelima saudara itu sembari membukakan pintu mobil untuk mereka.

"bagaimana keadaan rumah?" tanya Ohno pada Tanaka

"Inoo-sama dan Ryu-sama belum pulang dari sekolah dan tempat kuliahnya" jawab Tanaka

"memangnya mereka kemana?" tanya YamaP tiba-tiba memotong pembicaraan Tanaka dan Ohno

"mereka bilang, mau mampir ke toko buku"

"oh, baiklah"

"sumimasen Nakamaru-sama, dua orang itu siapa?" Tanaka berbalik tanya

"oh, itu si lintah darat" tegas Nakamaru

"sepertinya melihat dari postur tubuhnya aku mengenal sosok pria kurus itu" bisik Tanaka pada Yama-chan yang lewat di sampingnya

"ee?? hontou ni?" Yama-chan pun terkejut mendengar pernyataan dari Tanaka

"un, hontou! aku merasa postur tubuh pria kurus itu mirip dengan postur tubuh ayah kalian" sahut Tanaka sambil berbisik pada Yama-chan

"ee?? hontou??? uso da yo!"

Setelah mendengar perkataan Tanaka, Yama segera memberi tahu Ohno kakak tertuanya untuk segera membuka penutup mata kedua pria itu. Yama-chan memang merasakan hal aneh sejak awal melihat pria kurus itu, seperti ada yang berbeda dengannya. Dia sama sekali tidak berontak ketika para yakuza itu menyeretnya keluar dari gudang, sementara pria gemuk yang satunya lagi selalu memberontak dan berteriak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk di katakan.
Yama-chan mulai berpikir, kalau pria kurus itu memang benar ayahnya, tapi mengapa ayahnya melakukan hal itu dan ia juga tidak habis pikir kalau ayahnya tega meninggalkan semua anaknya hanya demi uang.

"baiklah! aku akan membuka penutup mata kalian, dan kami ingin tahu mengapa kalian melakukan hal ini pada keluargaku" tegas YamaP dan Ohno pada kedua pria itu

"cuiiih! aku tidak akan sudi jika menjawab semua pertanyaan kalian" pria gemuk itu terus mengoceh tidak karuan dan dengan tidak sopannya ia meludahi Akanishi-san

"hey kau! dasar kurang ajar!" teriak Nakamaru pada pria itu

"sudah-sudah, tidak apa-apa. sebaiknya kita segera menginterogasi mereka berdua" Akanishi-san mulai mendinginkan suasana di rumah itu

Sementara itu, Tanaka dan Yama-chan terus memperhatikan si pria kurus. Mereka berdua perlahan mulai mengerutkan alis dan mata mereka ketika Ohno membuka ikat mata si pria kurus.
Ternyata memang benar perkiraan Tanaka, pria itu adalah ayah dari ketujuh bersaudara. Di saat yang bersamaan Tanaka mendekati pria itu, ia hanya ingin memastikan apakah itu benar-benar majikannya atau bukan.

"tu...tu...tuan?" ujar Tanaka terbata-bata

"tuan katamu??!!" sahut kelima bersaudara itu terkejut

"iya, pria ini adalah ayah kalian, benarkan Akanishi-san?"

"i..i..iya, benar, tapi.."

"tapi apa?" tiba-tiba Ryu dan Inoo masuk kedalam rumah dan melihat keadaan dirumah mereka sedang tegang

"apa yang kau lakukan selama ini Nagano?" tanya Akanishi-san pada pria kurus itu yang tak lain adalah ayah dari ketujuh bersaudara itu

"a..a..aku" sebelum ia menyelesaikan perkataannya itu, si pria gemuk lintah darat itu memotong perkataannya

"dia adalah antekku! hahahahaha!!" pria itu tertawa tanpa henti, ia bahagia akan hal yang ia lakukan terhadap keluarga kaya itu

"dasar gila!"seru YamaP emosi

"apa benar kau adalah ayah kami???" tanya Ohno dengan nada sedikit kecewa

"iya, aku memang benar ayah kalian" tegas pria itu

"tapi, kenapa kau tega melakukan ini pada kami?" tanya Tegoshi

"ayah terpaksa"

"ayah katamu? kau menyebut dirimu seorang ayah?" sahut Inoo dengan raut wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata

"Hey! Inoo, untuk apa kau meneteskan air mata berhargamu hanya untuk seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab dengan anaknya" teriak Nakamaru sambil menghampiri Inoo dan mengajaknya masuk kedalam kamar

Suasana di rumah itu kini mulai dipenuhi dengan amarah, tidak ada dari mereka bertujuh yang bisa berpikir jernih dan menyelesaikan masalah yang terjadi. Mereka juga sudah menginterogasi si lintah darat Okazaki dan menelepon polisi agar memasukkannya kedalam penjara. Walaupun semua masalah Okazaki sudah selesai, tapi mereka masih tidak bisa menerima perlakuan ayah mereka yang memilih meninggalkan anak-anaknya dan malah menjadi antek dari si lintah darat itu hanya demi membayar hutang-hutang kekayaan pada Okazaki. Meskipun ayah mereka sudah meminta maaf ternyata maaf saja tidak cukup bagi mereka semua.

Pada akhirnya berkat usul dari Akanishi-san bahwa sang ayah harus membayar perbuatannya itu dengan menjual semua aset yang ada dirumah itu. Akanishi-san juga mengusulkan agar keluarga Ohno pindah ke Shizuoka untuk tinggal bersama Akanishi-san dan memulai hidup dari nol lagi bersama sang ayah tanpa harta yang melimpah ruah dan juga melupakan semua kejadian yang pernah dialami oleh ketujuh bersaudara itu. Tanaka si pelayan yang setia itu juga ikut bersama mereka untuk pindah ke Shizuoka. Setiap hari ia masih setia melayani kebutuhan yang diperlukan oleh keluarga itu, ia juga mempunyai pekerjaan sampingan selain menjadi pelayan, yaitu membantu Akanishi-san di kedai makanan milik Akanishi-san.



-The End-

Saturday, 14 May 2011

(My bodyguard is English Boy) chapter 3

Cerita Sebelumnya


Kento berjalan semakin jauh dari pandanganku, sebenarnya ada apa dengan dirinya? apakah aku salah kalau ingin membantu orang? ini bukanlah sifat Kento yang biasanya.

Aku harus mencari tahu ada apa sebenarnya dengan Kento.....


***********************************************************************************

continue


Setelah Kento meninggalkan ku sendirian di terminal bus, aku jadi pulang sendiri tanpa di kawal oleh Keito. Di perjalanan pulang, aku menyempatkan membeli beberapa makanan untukku sendiri karena sepertinya malam ini aku akan kerja romusha (?) untuk menyelesaikan tugas kuliahku dan berkas-berkas yang menumpuk di meja ku. Minggu ini memang sedikit berat dalam hidupku, selain pekerjaan yang menumpuk, di tambah lagi si Kento yang ngambek gak jelas. Setelah pekerjaanku selesai semua, aku janji akan meminta penjelasan terhadap kelakuan Kento yang aneh itu. Aku masuk ke sebuah supermarket dan membeli beberapa bungkus keripik untuk malam ini, tiba-tiba saja aku seperti melihat Kento di supermarket itu, setelah ku perhatikan dengan saksama lagi, ternyata itu memang benar Kento. " wah, si Kento lagi ngapain tuh di bagian majalah? jangan-jangan dia lagi numpang baca gratis di sana, apa aku tegur saja ya?" ucapku dalam hati

Sudah banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan padanya, kenapa dia tadi meninggalkanku dan kenapa dia bertingkah aneh hari ini. Beberapa menit aku memerhatikannya, akhirnya dia keluar juga dari supermarket itu, aku segera mengikutinya keluar. "loh,,loh,,? ini kan bukan jalan menuju rumahnya? mau ngapain si Kento lewat jalan ini?" tanyaku dengan diri sendiri


Jalan demi jalan aku telusuri, tapi aku tidak mengetahui daerah yang sedang ku datangi, tiba-tiba saja Kento berhenti di sebuah bar dan masuk kedalamnya. "ee?? dia masuk ke bar? mau ngapain sih itu orang masuk kesana? jangan-jangan..." hal-hal yang aneh-aneh mulai muncul di dalam pikiranku, aku pun ikut masuk ke dalam bar tersebut. Dengan tertatih-tatih karena kelelahan, aku melangkah memasuki tempat aneh itu. Bar itu di penuhi laki-laki bejat dan wanita penggoda, musik-musik yang tidak pernah ku dengar sebelumnya menaungi telingaku hingga aku pusing. Aku duduk sejenak di bangku yang jauh dari pandangan Kento. Aku terus memerhatikan sosok Kento yang masuk ke sebuah ruangan, 5 menit kemudian ia muncul kembali dengan mengenakan pakaian seragam yang sama dipakai oleh pemuda yang ada di ujung sana yang sedang melayani seorang gadis.


"Kento! kau sedang apa di sini? apa yang kau lakukan?" tanyaku segera menghampiri Kento yang sedang berdiri mengelap gelas-gelas


"Yuri? sedang apa kau disini? jangan-jangan kau mengikutiku ya?" Kento berbalik tanya padaku


"i..i..iya..!"


"aku sedang sibuk bekerja, tolong kamu jangan ganggu aku dulu" pinta Kento padaku



"tapi, sejak kapan kau bekerja di tempat seperti ini?" aku terus bertanya pada Kento


"kau tidak perlu tahu kapan dan mengapa aku bekerja di sini, sebaiknya kau pulang saja sana!" seru Kento terus mengelap gelas-gelas


"aku tidak mau!!!"


"terserah! sebentar lagi akan ada yang menyeretmu keluar dengan paksa kalau kau tidak mau pergi juga"


Aku mendesah di dalam hati, kenapa Kento begitu kasar padaku dan.... akhh, sudahlah sebaiknya aku pergi saja dari tempat aneh ini dan segera mengerjakan tugasku.


-ASHITA-


Pagi ini seperti biasanya Kei sudah ada di depan rumah dan siap untuk mengantarku, barang bawaanku hari ini sungguh banyak sampai-sampai pelayanku kerepotan membawanya, hari ini aku bertekad setelah dari universitas langsung menginap di rumah Kei. Setelah semalaman suntuk berfikir aku akan refreshing bersama Kei di rumahnya sekalian membantu keluarganya. Aku sudah tidak mau mempermasalahkan hal yang kemarin dengan Kento, biarkan saja kalau dia itu marah denganku, toh nanti dia pasti akan menelepon dan meminta maaf.


"ohayou yuri-sama" seru kei menebar senyumnya


"ohayou gozaimasu" balasku tersenyum padanya


"hari ini kau yakin mau menginap dirumahku beberapa hari?"


"tidak, aku akan menginap dirumahmu 1 minggu"


"eee??? apa tidak terlalu lama? bagaimana dengan kuliahmu dan pekerjaan?" mata Kei terbelalak ketika mendengar ucapanku


"un, sudah kuputuskan, aku akan menginap di rumahmu selama 1 minggu dan akan berangkat kuliah dari rumahmu, makanya nanti kau tidak usah mengembalikan mobil ke rumahku" ujarku panjang lebar menjelaskan


"baiklah, ayo kita berangkat sekarang"


Aku dan Kei memasuki mobil, sepanjang perjalanan Kei selalu menanyakan bagaimana dengan Kento tapi aku selalu mengalihkan pembicaraannya itu, sampai-sampai dia bosan dan mengganti topik pembicaraan kami. Sesuai rencanaku, Kei mengantarku sampai ke universitas, sebelum keluar mobil tiba-tiba saja Kei menarik tanganku dan berkata "hati-hati Yuri-sama, kalau kau butuh aku langsung panggil dengan walkie talkie" *alat jaman baheula*

"un, tentu saja" ucapku sambil tersenyum padanya.

Memang agak aneh kalau Kei bertingkah laku seperti itu, tidak biasanya dia begitu, atau jangan-jangan... isssh aku tidak boleh memikirkan hal aneh itu, dia kan hanya pengawalku saja.

Aku terus berjalan sambil menunduk memikirkan hal itu dan BRAAAKK!! aku menabrak seseorang sampai ia terjatuh.


"sumimasen, hontou sumimasen.." ujarku meminta maaf pada lelaki yang kutabrak


"daijoubu" balas lelaki itu


Aku merasa mengenal suaranya, dan dengan sesegera mungkin aku menongakan kepalaku, dan.. TADAAA, orang yang kutabrak adalah Kento, "aiisshh, kenapa harus dia yang kutabrak" ucapku dalam hati. Tapi, hari ini Kento terlihat pucat dan kurang sehat.


"Kento? maafkan aku ya sudah menabrak kamu"


"tidak apa-apa, lain kali kalau jalan hati-hati"


"maafkan aku sekali lagi ya, aku benar-benar ceroboh"


"ya..ya.. tidak usah berlebihan begitu, baiklah Yuri, aku duluan kekelas ya"


Dengan sekelebat, Kento meninggalkanku sendirian di tengah jalan yang masih terheran-heran.

"kok dia tidak marah ya? biasanya kalau ada orang yang menabraknya pasti dia ngoceh-ngoceh gak jelas, tapi kok sekarang gak ya?" tanyaku dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala



-KYOSHITSU-


Di dalam kelas aku belajar seperti biasanya, dengan dosen yang selalu marah-marah di dalam kelas. Sesekali aku menoleh ke arah Kento, dia terus saja menulis tanpa menoleh ke arahku sedikitpun, raut mukanyapun terlihat sedih dan pucat. Ya, pokoknya aku harus menanyakan ini pada Kento.


"sstt, Kento!" bisikku


"ada apa?" tanyanya balik berbisik


"kau sudah tidak marah lagi denganku?"


"tidak, aku sudah tidak marah denganmu, kemarin aku hanya emosi saja, kau seenaknya saja mengikuti ku ke tempat kerjaku"


"eeh?? jadi sekarang kau bekerja disana? kenapa kau tidak pernah bilang?"


"kau tidak perlu tahu semua aktivitasku kan? biasanya juga kau tidak pernah mau tahu apa saja kegiatanku" jawab Kento ketus padaku


"iya sih memang, tapi hari ini kau terlihat pucat, apa kau baik-baik saja?"


"ya, mungkin aku hanya kelelahan setelah bekerja seharian kemarin"


"oia, hari ini aku mau berlibur ke rumah Kei dan menginap disana satu minggu, kau mau ikut?"


"aku tidak tertarik, masih ada hal yang harus ku kerjakan selain bersenang-senang"


'PLETAAAAK' tiba-tiba sepidol melayang ke kepalaku dengan keras.


"heeeei, Yuri, Kento!! kalian ini kebiasaan ya selalu saja mengobrol di jam pelajaran saya!" teriak dosenku yang sedang mengajar di kelas


"maafkan kami pak, aku hanya menanyakan keadaan Kento saja, habis wajahnya pucat" ujarku mengadakan pembelaan


"DASAR ANAK GEMBLUNG, nanti saja kalau mau mengobrol setelah jam kuliah selesai, cepat menghadap ke depan dan perhatikan"


"baik pak" ucapku dan Kento serentak


'TENG..TONG..TENG..TONG' bel pulangpun terdengar kencang di telingaku. Dosenku segera beranjak keluar diikuti dengan murid di kelas. Aku menoleh lagi ke arah Kento, tapi dia belum juga beranjak dari tempat duduknya dan malahan dia tidur di mejanya.


"heeeeei, Kento! ayo bangun sudah selesai kelasnya" teriakku didekat telinganya

Tapi dia tetap tidak bangun, padahal sudah ku teriakkan 4 kali dan ku tepuk pundaknya tetap saja dia tidak bangun juga. Aku jadi panik sendiri disana karena tidak ada satupun orang yang lewat, dahinya panas tetapi tangannya dingin. Sudah kuduga, dia pasti sedang sakit. Dengan sigap, ku panggil Kei dan segera membawanya kerumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, ia selalu mengigau dan menyebut namaku. Aku semakin panik dengan keadaanya.


"Kei, ayo cepat sedikit, aku kasihan dengan Kento"


"un, baiklah"


Sesampainya di rumah sakit, dia langusung di bawa keruang perawatan oleh dokter yang menanganinya. Akupun menghubungi ibunya memberi tahu kalau Kento dirawat dirumah sakit. Setelah dokter memeriksanya, aku disuruh menuju keruangan dokter itu, aku di temani Kei segera menuju keruangan dokter itu. Sebelumnya aku sangat gugup dan takut kalau terjadi sesuatu yang mengerikan pada Kento. Aku menggantikan ibunya karena ia belum datang juga setelah di telepon beberapa kali.


"jadi begini" dokter itu mulai pembicaraan


"apa terjadi sesuatu pada Kento?" tanyaku pada dokter itu


"Kento baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir, mungkin dia hanya kelelahan saja"

"kira-kira sampai kapan dia di rumah sakit dok?" tanyaku lagi pada dokter itu dengan nada sedikit lirih

"kami akan memeriksa keadaannya lagi, jadi mungkin sekitar tiga hari dia akan di rawat di rumah sakit ini"


***


Hari ini aku masih terus memikirkan keadaan Kento yang masih terbaring di rumah sakit, namun aku tidak enak dengan janji ku ingin menginap di rumah Kei, aku takut dia kecewa kalau aku bilang tidak jadi menginap di rumahnya, jadi kuputuskan untuk tetap pergi ke rumah Kei. Di rumahnya aku di perlakukan dengan baik dengan keluarganya. Seandainya saja keluargaku masih utuh mungkin aku juga akan di perlakukan seperti itu. "ah, kenapa aku terus berandai-andai sih?"


"yuri-sama" panggil seseorang yang memecahkan lamunanku


"ya? kenapa?" sahutku dan balik bertanya

"teleponmu bedering" ucap Kei seraya memberikan telepon genggamku


"moshi-moshi, yuri desu, dare desuka?" tanyaku pada orang di teleponku


"apa? Kento lupa ingatan?"


Sehabis menerima telepon dari ibunya Kento, aku segera melesat kerumah sakit di antar dengan Kei.
setibanya di rumah sakit, aku melihat raut sedih dan terpukul terpancar di wajah ibu dan kakaknya Kento. Dengan sigap, aku segera bertanya apa yang terjadi kepada Kento, ibunya pun menjelaskan semuanya padaku dengan nada lirih dan air mata mulai membasahi pipinya. Ternyata Kento mengidap penyakit Alzheimer stadium dua, hal yang sungguh tak pernah terlintas dalam pikiranku selama ini kalau Kento memiliki penyakit seperti ini.
Aku mulai takut kalau Kento sampai melupakanku dan tidak akan pernah ingat lagi padaku, mengingat bahwa penyakit Alzheimer ini menyerang syaraf-syaraf ingatan seseorang dan sulit untuk disembuhkan meskipun sudah ada terapi dari dokter.

"apakah Kento sudah mengetahui hal ini?" bertanya kepada ibunya Kento sangat sulit bagiku kalau melihat raut wajahnya yang amat begitu sedih


"iya, Kento sudah tau mengenai hal itu" jawab ibunya

"hmm.. apakah aku bisa melihat keadaannya?" ujarku meminta


"silahkan saja, tapi bibi mohon, jangan kau buat Kento sedih lagi ya"


"sedih? maksud bibi?"

"ya, sebenarnya Kento itu sudah menyukai kamu sejak sekolah di tingkat dasar, namun ia tidak pernah bilang padamu karena takut"


"takut? memangnya aku menggigitnya ya?" ujarku sedikit tertawa


"bukan, karena kau adalah anak orang yang berada dan kau tidak pernah peduli sedikitpun pada Kento" jelas Ibunya Kento


"iya, itu karena aku merasa tidak dekat dengannya, aku dekat dengan Kento semenjak sekolah menengah, jadi aku tidak mengetahuinya"

"sekarang kamu sudah tahu kan? bisakah kau menyayangi Kento lebih dari sahabat dan bisakah kau menjaganya?"


Sulit,, ya, sungguh sulit untuk menjawab pertanyaan dari orang tua Kento yang memintaku untuk menjaga dan menjadikan Kento lebih dari sahabat di mataku, sedangkan perasaanku tidak pada Kento melainkan pada Kei. Meskipun Kei tidak mengetahuinya tapi aku yakin, Kei juga memiliki perasaan yang sama padaku, tapi....
Aku harus bicarakan masalah perasaanku pada Kei, jangan sampai aku salah mengambil langkah nantinya.


"bibi.. bisakah kau memberikanku kesempatan untuk memikirkan dan menjawab permintaanmu?" tanyaku pada bibi

"baiklah, tapi bibi sangat berharap kau mau menerima Kento"

Aku diam sejenak dan aku baru tersadar bahwa aku tidak menghiraukan Kei, akupun segera menoleh ke arahnya dan melihat raut wajah yang teramat kecewa dan sedih.


"Kei, bisakah kita bicara sebentar" ajakku

"baiklah, bicara saja" ujar Kei


"sebaiknya kita cari tempat lain untuk membicarakan hal ini" ajakku pada Kei yang segera beranjak dari duduknya dan mengikutiku dari belakang


***

"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kei langsung padaku

"hmm,, aku ingin meminta pendapatmu masalah permintaan ibu Kento padaku"

"untuk apa kau ingin meminta pendapatku? bukankah itu sudah jelas, memang sudah seharusnya kau menolong Kento"

"iya,, tapi...." ujarku terhenti

rasanya sulit untuk mengatakan kalau aku memiliki perasaan lebih pada Kei, mengapa aku tidak bisa mengatakannya langsung

"tapi kenapa?"

"tapi aku menyukaimu Kei" ujarku pada Kei dan langsung berlari meninggalkan Kei ke tempat dimana Kento di rawat

Akhirnya aku bisa mengungkapkan perasaanku pada Kei, rasa sesak yang ada di dalam dadaku seketika hilang karena hal yang ku pendam selama ini bisa keluar seketika. Tapi, apakah Kei menanggapi hal ini dengan serius? ataukah dia hanya menganggapku bercanda?"
Aku tidak akan berharap jawaban "YA" keluar dari ucapannya


to be continued

Friday, 18 March 2011

(My bodyguard is English Boy) chapter 2

continue.. ^^

****************************************************************************
Aku masih terheran-heran melihat sesosok pemuda yang berdiri di dekat mobilku itu, dia bukan supir ku yang biasanya, tapi sepertinya wajah itu tidak asing lagi denganku, setelah ku ingat-ingat lagi ternyata dia adalah pemuda yang kemarin ku tolong saat hampir masuk penjara gara-gara kejadian itu. Aku langsung menghampirinya, pikiran-pikiran aneh mulai membayangiku dan aku jadi semakin bingung.

"ohayo gozaimasu yuri-sama" ujar pemuda itu padaku

"ohayo gozaimasu" sahut ku

"hmm, mulai sekarang saya adalah pengawal pribadi anda dan sekaligus menggantikan supir anda yang lama" tegas pemuda itu dengan wajah tanpa ekspresi

"e..eto, kamu itu yang kemarin hampir masuk penjara kan?" aku pun bertanya dengan terheran-heran

"ya betul, kemarin malam saya kerumah anda, tapi kata pelayan yang ada di rumah ini, anda sudah tidur"

"tapi, siapa yang menyuruhmu bekerja disini tanpa seizin ku?" tanyaku lagi pada nya

Belum sempat ia menjawab pertanyaanku, kemudian Yuto-kun datang dan mengatakan bahwa ialah yang sudah menerima pemuda itu untuk  bekerja menjadi pengawal pribadiku, tadinya aku ingin sekali marah dengan Yuto-kun tapi karena ini juga demi kebaikanku, akupun tidak jadi marah dengannya. kalau tau pemuda itu ingin datang ke rumahku, aku tidak akan tidur cepat semalam. huh! aku jadi menggerutu sendiri.

"baiklah, mulai sekarang kau bekerja menjadi pengawalku" ujarku memecah keheningan di depan rumah

"aah, arigatou ne Yuri-sama, boku wa Kei desu, 24 sai desu, yoroshiku onegaishimasu"

"ok, hari ini kau antarkan aku ke perusahaan rekamanku ya sekarang" pintaku pada Kei

kami segera berangkat menuju tempat tujuanku, saat di dalam mobil kami berdua diam tanpa berbicara apa-apa, aku jadi teringat dengan supir lamaku yang selalu mengajakku bicara di dalam mobil dan selalu membicarakan hal-hal yang membuatku tertawa sendiri. Kurasa Kei adalah orang yang dingin dan tidak banyak bicara. Hhh!!

Sesampainya di kantorku, aku segara mengurus berkas-berkas yang sudah satu minggu menumpuk di mejaku. Terkadang kalau begini aku jadi ingin sekali memiliki asisten yang bisa membantu ku mengerjakan berkas-berkas ini dan menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaan rekamanku ini.
karena sibuknya mempelajari berkas-berkas, aku sampai lupa dengan Kei yang sedari tadi berdiri di dekat pintu tanpa duduk

"Kei, kenapa kamu gak duduk?" tanyaku sambil menatap ke arah tumpukan kertas

"Yuri-sama kan tidak menyuruhku untuk duduk"

"jiaaah makhluk aneh,, yasudah, silahkan duduk, besok-besok kalo kau ikut ke sini lagi, langsung duduk saja, tidak usah menungguku menyuruhmu duduk"

"ya, baiklah" sahut Kei segera duduk di sofa dekat meja kerjaku

"aaahh,, yabaaaaii!!!" teriakku tiba-tiba

"ee,, doushite Yuri-sama?" tanya Kei sontak berdiri dari duduknya

"aku pusing membaca berkas yang satu ini, isi nya bahasa inggris semua, aku kan paling anti kalo baca teks bahasa inggris. huaaa, gimana dong ini?"
*gerutu-gerutu sendiri*

"boleh aku lihat berkasnya?" tanya Kei padaku

"ee? buat apa? kamu emang bisa baca tulisan yang gak jelas begini?" akupun balik bertanya padanya

"ya, aku agak sedikit bisa membaca dan mengartikan bacaan bahasa inggris, aku akan membantu Yuri-sama untuk mentranslate bacaan dalam berkas ini" jawab Kei sambil mengambil berkas bahasa inggris itu dari tanganku


"aah! yokatta na, akhirnya ada juga yang mau membantuku mentraslate ini"

"lha? emang biasa nya kalo ada berkas bahasa inggris kayak gini gak pernah Yuri-sama kerjain dong?"

"ah, itu, biasa nya aku menyewa jasa translate di internet buat translate berkas-berkas aneh itu, hohohoho"
*gubrak!!*

"mulai sekarang kalo ada bacaan bahasa inggris, aku bisa membantu Yuri-sama untuk mentranslatenya" ujar Kei padaku

Sekarang aku tau kalau Kei itu orang yang menyenangkan dan tidak membosankan, apalagi setelah dia mau membantuku mengerjakan berkas-berkas di kantorku. Iseng-iseng aku bertanya padanya tentang jenjang pendidikannya, ternyata oh ternyata, makhluk yang satu ini pernah kuliah di Todai, tapi berhenti di tengah jalan karena tidak sanggup membayar uang kuliahnya, meskipun ia sudah bekerja paruh waktu untuk menghasilkan uang itu. Aku sedikit iba dengannya, kalau saja aku bisa membayarkan uang kuliah untuknya.

"Kei-kun, kalau ada yang mau membayarkanmu uang kuliah, kamu mau gak?"

"mau sih, cuma aku sudah tidak minat untuk kuliah lagi, aku ingin membiayai hidup keluargaku"

"kamu sudah berkeluarga Kei-kun?"

"bukan, maksud ku, orangtua dan adikku yang masih kecil-kecil, seandainya ada orang yang mau membiayai kuliahku, akan lebih baik uang itu untuk membiayai sekolah adik-adikku saja"

"oh, kalau seandainya aku ingin membiayai kuliah adik-adikmu, apakah kau keberatan?" tanya ku pada Kei yang sedang metranslate berkas-berkas

"aku akan tanyakan dulu dengan orang tuaku ya" sahut Kei

"hmm, bagaimana kalau aku menemui keluargamu dan aku yang akan menjelaskan semuanya?"

"boleh saja, tapi besok saja ya kita kerumahku"

Akhirnya, kami sepakat untuk pergi ke rumah Kei pada hari minggu. Pada malam harinya Kento meleponku, dan dia ingin mengajakku belajar bersama di rumahnya Kento, tapi karena aku sudah membuat janji lebih dulu dengan Kei, jadi aku menolak ajakkan Kento. Tapi aku sedikit tidak enak dengan Kento karena menolak ajakkannya, sehingga aku memutuskan untuk mengajaknya ikut ke rumah Kei lalu sesudah itu aku baru mengerjakan tugas bersama dengan Kento.

-ASHITA-

'Tok..Tok..Tok..'
Seperti biasa Yuto-kun selalu membangunkanku untuk segera bersiap-siap, hari ini terasa lebih berbeda dari hari sebelumnya. Sekarang aku sudah memiliki pengawal pribadi baru yang bernama Kei yang jago mentranslate bacaan bahasa inggris, tapi nasibnya kurang beruntung. Hari ini aku akan bertamu kerumahnya bersama Kento, hari ini juga aku sengaja untuk menyuruhnya libur. Aku berangkat bersama Kento menggunakan bis, kemudian kami dengan cepat menemukan dimana rumah Kei berada. Di tengah perjalanan Kento sempat bertanya yang aneh-aneh padaku tentang Kei, tapi aku tidak menjawabnya karena menurutku hal itu tidak begitu penting untuk di jawab. Akhirnya kami sampai juga di rumah Kei, keadaan rumahnya memang sangat sederhana, ia memiliki 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan dan ia tinggal bersama ibunya, karena kedua orangtuanya bercerai 3 tahun lalu.

Ibunya langsung mempersilahkan aku dan Kento duduk di atas tatami, dan Kei menyuguhkan kocha pada kami berdua.

"jadi, apakah benar Yuri-chan ingin membiayai sekolah adik-adiknya Kei?" tanya ibu Kei memulai pembicaraan

"iya benar, aku ingin membantu keluarga anda, tapi apakah anda tidak keberatan dengan niatku ini?" akupun berbalik tanya pada ibu Kei

"kalau niat Yuri-chan tulus, saya senang menerima bantuan kamu" ujarnya

"baiklah, kalau begitu kita sepakat ya"

Setelah berandang kerumah Kei, Aku dan Kento pun segera menuju rumah Kento untuk mengerjakan tugas kuliah kami.

"Yu-chan, sebenarnya aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiranmu" ujar Kento sambil berdiri menunggu bis datang

"aku hanya berniat baik membantu keluarga Kei" sahut ku

"kau kan baru kenal dengannya, kenapa langsung melakukan sesuatu yang baik seperti itu" ujar Kento ketus

"memang kenapa?, ini kan urusanku, kenapa kau bicara ketus seperti itu, lagipula Kei itu kan pengawal pribadiku, jadi sudah seharusnya aku baik dengan semua pengawal ku

"terserah kau saja lah, aku tidak akan bertanya macam-macam lagi dan kalau terjadi sesuatu aku tidak akan mau tau!" seru Kento kesal sambil berjalan meninggalkan ku sendiri di terminal

"heeeii Kento!! kau mau kemana?" aku pun meneriakinya dari arah terminal

"kau tidak perlu mengurusi diriku, urus saja pengawal baru mu itu!"

Kento berjalan semakin jauh dari pandanganku, sebenarnya ada apa dengan dirinya? apakah aku salah kalau ingin membantu orang? ini bukanlah sifat Kento yang biasanya.
Aku harus mencari tahu ada apa sebenarnya dengan Kento.....


to be continued

Monday, 28 February 2011

(My bodyguard is English Boy) chapter 1

Pemeran utama : Chinen Yuri (Hey!say!JUMP) as Yuri
                          Okamoto Keito(Hey!Say!JUMP)  as Kei
Genre               : Romance, comedy
Author              : Yumeko




**********************************************************************************

"Yuri,, kochi..kochi, iku yo!"
Suara itu terus muncul di dalam mimpi ku semenjak  5 tahun lalu ketika kecelakaan itu merenggut nyawa kedua orang tua ku. Huh! seharusnya suara itu berhenti terdengar di mimpi ku, kalau setiap malam aku mendengar suara itu, aku bisa gila lama-lama.
Aku adalah Yuri, umurku sudah berkepala dua, alias 20 tahun, aku tinggal sendirian di rumah peninggalan orangtua ku yang amat besar, bahkan aku sering sekali menginap di rumah temanku karena bosan sendirian di rumah meskipun banyak pelayan ku yang masih bekerja di rumahku, walaupun aku sudah menyuruh mereka berhenti mengurusku, mereka tetap ingin bekerja di rumah ku. Sepeninggalan kedua orangtua ku, aku harus mengurus perusahaan rekaman ayahku yang bahkan aku tidak tahu bagaimana cara mengurusnya. Hidup ku sudah seperti di neraka.
Kadang aku berpikir kapan aku bisa bekerja menjadi orang biasa yang tidak perlu di kawal kemana-mana dan bebas pergi tanpa sepengetahuan orang rumah seperti yang biasa teman-teman kuliahku lakukan. Setiap hari aku kuliah dari pagi hingga sore, kemudian langsung bergegas  ke perusahaan rekaman melihat kondisi di sana.
"Yuri-sama, Yabaaaaiii, yuri-sama!" seorang pelayan tiba-tiba menghampiriku dengan tergesa-gesa
"yo, doshite?"
"aduuh, pengawal baru yuri-sama tiba-tiba saja ingin keluar dari pekerjaan" ujar pelayan itu
"bagus dong, jadi aku gak ada yang ngawal lagi, lagipula aku sudah muak kalau di kawal-kawal terus" ucapku ketus pada pelayan itu sambil terus mengerjakan tugas kuliah ku
"tidak bisa yuri-sama, kalau terjadi sesuatu pada anda bagaimana?"
"hhh!!, lalu mau kalian aku harus bagaimana? mencari pengawal baru?"
"ya, tentu saja, kami akan bantu carikan Yuri-sama pengawal baru"
"terserah kalian saja lah, oia, coba panggilkan kepala pelayan, aku ingin bicara sesuatu pada nya"suruhku pada pelayan itu
"hai! chotto matte kudasai"
Pelayan itu segera meninggalkan ruangan ku dengan cepat dan segera memanggil kepala pelayan.
'TOK..TOK..TOK'
"ya, masuk saja Yuto-kun"
"Ada apa nona memanggil saya?"
"mmm.. aku ingin kamu tidak usah mencarikan ku pengawal baru"
"doushite?"
"soalnya, aku yang pengen cari sendiri, kali ini aku ingin mencari pengawal yang benar-benar serius menjaga ku, jadi selama aku mencari pengawal untuk diriku, sebaiknya kau jangan menyuruh pengawal yang lain untuk menguntit ku"
"baiklah, kalau itu mau anda, tapi apakah tidak apa-apa?" tanya Yuto-kun
"hai! daijoubu Yuto-kun, arigatou ne"
"un, kalau begitu saya akan keluar dari ruangan anda, dan saya tidak akan menyuruh pengawal yang lain untuk menguntit anda"
Yuto-kun pun keluar dari ruangan ku, sebenarnya hal ini hanyalah alasan yang ku buat-buat saja dan pengawal yang berhenti itu juga karena aku menyuruhnya berhenti dan aku memberikan gaji lebih padanya.
Seperti nya, hari-hari ku selanjutnya akan lebih menyenangkan tanpa pengawal-pengawal menyebalkan itu.
Keesokan hari nya aku berangkat kuliah seperti biasa, di antar oleh supir ku yang baik hati dan hari ini sungguh ada yang berbeda. pengawal-pengawal ku tak lagi menguntit ku.
hahahaha! aku tertawa senang didalam hati.
"yokatta,, mulai hari ini aku bebas bermain sampai malam dengan teman-temanku" batin ku
"hei Yuri-chan!"
"sepertinya ada suara yang memanggilku?" ucap ku dalam hati
Seseorang itu menepuk pundak ku dan aku segera tersadar bahwa ia adalah Kento. ia adalah sahabat karib ku sejak aku masih duduk di bangku SD, sampai sekarang kami masih bersahabat dan aneh nya lagi, aku dan Kento selalu masuk ke sekolah yang sama. Terkadang aku berfikir, jangan-jangan Kento memang sengaja masuk sekolah yang sama denganku?
Tapi sudahlah, lagipula dia orang yang baik dan selalu membuatku senang setiap hari tanpa harus memikirkan masalah-masalah yang ada di dalam hidupku.
"hei, Yuri-chan, apakah kau hari ini sudah siap untuk mempresentasikan tugas kita ?" ujar Kento sambil merangkul ku
"tentu saja sudah, aku kan anak rajin. hahahahaha"
kami tertawa sepanjang perjalanan menuju ruang kelas tanpa tersadar kami sudah berada di depan pintu kelas, sial nya adalah dosen mata pelajaran sudah datang 1 menit mendahului kami berdua. "aduuhh,, bagaimana ini Kento? apakah sebaiknya kita masuk saja?" bisik ku dengan Kento sebelum masuk kelas
"aiissshh, sebaiknya aku yang mengetok pintu duluan, nanti kamu menyusul saja di belakang ku"
"un, ok!"
'TOK..TOK..TOK..'
Kento mulai mengetuk pintu dan meminta maaf karena kami berdua terlambat 1 menit. Awalnya dosen itu marah, namun setelah Kento membuat sebuah alasan yang tentu bohong, kemarahan dosen kami pun mereda dan langsung menyuruh kami duduk.
"Kento!" bisik ku
"nani??" Kento balik berbisik
"Kau ini pintar berbohong juga ya"
"hahaha.. tentu saja, demi kemaslahatan hidup kita berdua, daripada nanti kita di cincang atau di presto? kau pilih yang mana?" bisiknya padaku
"tentu saja di presto" ucapku bercanda
"hah, dasar kau ini, anak autis"
"Yuri dan Kento, mana tugas presentasi kalian? jangan hanya bisik-bisik saja kerjaannya!" seru dosen kami
"hai, baiklah pak, tadi kami hanya berbisik-bisik masalah presentasi kami" sahut Kento
"un, betul pak" timpal ku
Aku dan Kento hari itu langsung mempresentasikan materi kami di hadapan dosen yang menyebalkan itu, untungnya presentasi kami berdua lumayan bagus dan dosen kami pun tidak mengoceh lagi seperti burung beo.
Setelah bel pulang kuliah, aku dan kento menyempatkan makan ramen di sebuah kedai kecil di dekat kampus. Kedai itu adalah tempat favorit ku dengan Kento, satu porsi ramen itu cukup banyak sehingga kami kekenyangan.
"ooiii,, Oyaaajiii!" teriak seorang pemuda pada pemilik kedai itu
"ada apa tuan?" jawab pemilik kedai itu menghampiri pemuda yang teriak-teriak itu
"ramen ku mana? BAKA!" ucap pemuda berandal itu sambil memukul pemilik kedai itu sampai ia terjatuh
"hei!! kau!!!" seru seorang pemuda satu lagi yang duduk tepat di sebelahku
"Apa???" tantang pemuda berandalan itu
"kau tidak seharusnya memukul orang tua seperti itu, dasar tidak punya adat!"
"lalu mau mu apa??? lagipula dia yang salah, kenapa tidak segera mangantar ramen ku"
"memang dia dewa? harus segera melayani mu dengan cepat, dasar orang tak berguna!" seru pemuda yang satu lagi
Perkelahian pun terjadi di dalam kedai kecil itu, pelayan kedai yang lain segera menelepon polisi, dan akhirnya pemuda berandalan dan pemuda yang satu lagi di bawa ke kantor polisi.
"hei, Yu-chan, sebaiknya kita pulang saja ya, dan tidak perlu ikut campur dengan masalah mereka" ujar Kento
"hmm,, tapi aku kasihan pada pemuda yang satu lagi, dia kan berniat untuk menolong pemilik kedai itu" jawab ku
"lalu, kau mau apa sekarang?"
"aku ingin ke kantor polisi, dan menjamin pemuda itu agar bebas dari tuntutan polisi"
"tapi bagaimana caranya?"
"isshh, kento, kau ini terkadang bodoh ya! kita tuh bisa menjadi saksi untuk dia dan dapat meringankannya" ucap ku kesal
"hehehehe.. gomen ne Yu-chan"
Aku dan Kentopun menyusul kedua pemuda ke kantor polisi. Di sana aku pun berhasil membuat pemuda yang baik itu terbebas dari kesalahan walaupun uang ku sedikit terkuras karena polisi itu meminta uang jaminan. Dasar polisi sekarang memang tidak bisa dipercaya, mata duitan!
"syukurlah kau bisa bebas dari tuntutan" ucapku pada pemuda baik hati itu
"un, terimakasih karena sudah menolongku,aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan mu" ujar pemuda itu
Tiba-tiba, ide cemerlang muncul di benakku, sebaiknya aku menjadikan dia sebagai pengawal pribadi ku, aku yakin dia bisa menjaga ku dengan baik.
“hmm,, sebenarnya, aku sedang butuh pengawal pribadi, apakah kau mau?” ucapku pada nya
“Eee?? Hontou? Sebenarnya aku juga sedang mencari pekerjaan tapi...”
“tapi kenapa? Kalau kau tidak mau juga gapapa kok, aku tidak memaksa kan”
“hmm,, bisa beri aku kesempatan berfikir dan menayakan hal ini pada orang tua ku?” tanya nya
“baiklah, kalau kau berubah pikiran, kau datang saja kerumahku, nih! Alamat ku” sambil memberikan kartu namaku



-ASHITA-

“hoaaamm!! Aduh, hari ini hari sabtu kan ya?” tanyaku pada diri sendiri
Aku segera bangun dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi. Di meja makan sudah tersedia roti bakar dan susu putih yang disiapkan oleh para pelayan ku. Hari ini mereka tampak ceria, hal ini membuat ku berfikir “jangan-jangan, mereka menemukan pengawal baru untukku?”. Ah! Tidak  bisa, kan mereka sudah ku suruh untuk tidak mencari pengawal baru.
Karena aku tidak begitu memikirkan hal itu, aku langsung menuju ke pintu depan dan disana kulihat seorang pemuda sedang berdiri menunggu seseorang.
“Siapakah pemuda itu sebenarnya” ucapku dalam hati

To be continued

Wednesday, 23 February 2011

(Seikatsu no Sichi Kyodai) Chapter 4

Cerita sebelumnya....

Ketujuh bersaudara itu menemui yakuza kenalan Akanishi-san, yakuza itu setuju untuk membantu mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi sekarang tetapi dengan bayaran sesuai permintaan si yakuza.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

"sudah 3 minggu belum ada informasi juga mengenai keberadaan si lintah darat itu" ucap inoo sambil duduk-duduk di teras rumah

"iya, benar, akanishi-san juga belum menelepon kita" sahut YamaP

"huuffftttt,, kapan ya mereka mengabarkan?" mereka berdua menghela nafas

"heiii,, heiii,, kalian jangan murung gitu dong, kita percayakan saja dengan tuan yakuza dan akanishi-san, daripada kalian melamun, mending kalian cobain kue buatan ku yang baru selesai ku panggang" sahut Tegoshi

"ohh, kamu emang bikin kue apa?" tanya inoo

"biasa lah, kue strawberry campur vanilla"

"waaaahh, pasti enak. ayo inoo kita ke meja makan, panggil juga niichan dan itoutou yang lainnya" ujar YamaP sambil berdiri menuju meja makan"

"siip niichan"

kriiing...kriiing...kriiing...
suara telepon terdengar beberapa kali


"Tanaka-san, tolong angkat telepon nya ya!" seru inoo menyuruh Tanaka

dengan secepat kilat, Tanaka-san pun mengangkat telepon nya.

"moshi..moshi.. Tanaka-san desu, dare ga?" ucap Tanaka

Tanaka-san cukup lama berbicara di telepon, sementara ketujuh bersaudara itu sedang sibuk makan kue buatan Tegoshi di meja makan.

"uwaaa,, oishiiiiiiii" ucap Ryu sambil memakan kue nya

"un,, hontou ni oishii desu, kamu memang jouzu ya niichan dalam hal memasak" puji Yama

"haa, hontou ni arigatou gozaimasu Yamachan"

"eeehh, kata siapa kue nya enak, aku gak suka tuh kue strawberry apa lagi di campur sama vanilla, hueeek, mau muntah saya nya" ledek Nakamaru sambil terus memakan kue nya.

"aiisshh,, kau memang BAKA! kalo gak enak kenapa masih terus di makan tuh kue??"sahut Ohno

"hahahaha.. aku kan cuma bercanda"

"maaf tuan muda" ucap Tanaka-san memotong pembicaraan mereka.

"ya, ada apa tanaka?" tanya Ohno

"yang tadi menelepon adalah Akanishi-san, dia bilang para yakuza itu sudah menemukan dimana lintah darat itu"

"apa? waah, itu berita baik, lalu apa lagi yang Akanishi-san sampaikan?"

"dia bilang, kalian harus segera kembali ke Shizuoka untuk bertemu para yakuza dan langsung menca lintah darat itu"

"hmmm... baiklah, besok kami akan segera berangkat" ujar Ohno

"tapi..tapi.."

"tapi apa inoo?"

"besok aku ada tugas presentasi, jadi ini sangat penting buat hidup mati ku, bolehkah aku tidak ikut?"

"yasudahlah, lebih baik kami berenam saja yang berangkat"

"ano.. Ohno niichan, aku boleh tidak ikut juga gak? soalnya aku tidak ingin menyusahkan kalian lagi kalo-kalo aku muntah atau sakit" pinta Ryu

"oke lah, kalian berdua di rumah saja dengan Tanaka"

 
(Keesokan pagi nya)

 "minna, udah siap kah kalian?" tanya Ohno

"Yoooosssshhh!! kami sudah siap"

"okeehh,, ima wa shizuoka e ikimasho!"seru Ohno pada saudaranya

Ketujuh bersaudara itu berangkat pagi sekali agar bisa tiba di Shizuoka tidak terlalu siang, sebelum berangkat, Tanaka memberikan bekal untuk diperjalanan.
Setibanya mereka di Shizuoka, mereka bergegas menuju rumah Akanishi-san dan langsung bertemu dengan para yakuza yang 3 minggu lalu mereka temui.
Dengan sesegera mungkin, mereka langsung menuju ke tempat para yakuza itu.

"hei, Akanishi-san, memang kemarin si bapak-bapak yakuza itu gimana ngomong nya ke kamu?" tanya Nakamaru

"kemarin ia bilang, sudah menemukan dimana markas si lintah darat itu, lalu ia langsung meminta ku memanggil kalian ke Shizuoka, katanya sih para yakuza itu mau membantu kita lebih jauh lagi" jawab Akanishi-san

"lho? kenapa tiba-tiba mereka ingin membantu kita? ada angin apa? bahorok? atau puting beliung?" tanya Yamachan sambil bercanda

"ternyata, si lintah darat Okazaki itu, musuh bebuyutan tuan yakuza yang kemarin, jadi ia juga ingin membalas dendam"

"owaalaaahh, masih zaman aja ya musuh bebuyutan, ckckckck" sahut YamaP sambil memakan onigiri nya

"yaudah, mending kita pikirkan gimana cara menjebak si Okazaki itu, dan gak mungkin kalo hari ini kita serang dia secara tiba-tiba" ujar Ohno

"tenang saja, para yakuza itu sudah memikirkan bagaimana cara menyerang si Okazaki itu, lagipula kemarin dia bilang sudah menyusun rencana dari satu tahun lalu untuk membalas si Okazaki itu"

"waaahh,, kita beruntung juga ya minta bantuan sama bapak-bapak yakuza itu, yang ternyata juga musuh bebuyutan Okazaki" seru YamaP dengan memasang tampang ceria

"Ciiiiit" suara mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di depan daerah yakuza itu, mereka segera menyambangi rumah sang yakuza itu, kini mereka tidak ketakutan lagi berjalan di daerah para yakuza yang menyeramkan itu. Seperti biasa, mereka di antar oleh para pengawal yakuza itu dan di sambut oleh seorang geisha yang kemarin menyambut mereka juga.

"tsuwatte kudasai" ujar si geisha itu

"hai!! arigatou"

Seorang yakuza gagah itu memasuki ruang tamu dan langsung duduk di hadapan mereka. Yakuza itu diam sejenak, dan mulai membuka mulutnya untuk bicara.

"hmmm, baiklah, sebaiknya kita mulai bergerak besok" ujar sang Yakuza itu

"lalu, apa yang harus kami lakukan?"

"kalian harus membantu kami untuk menyandera si Okazaki itu, dan kami akan mengurus anak buah nya"

"tapi bagaimana caranya?" tanya Ohno

" ketika sampai di sana kalian menyelinap saja, dan langusung bawa si Okazaki ke gudang yang sudah kami persiapkan"

"mmm... baiklah, setelah di sandera kami akan meminta penjelasan dari nya dan akan segera kami lunasi hutang-hutang tou-chan"

"un, betul, aku sudah tidak sabar untuk bertemunya besok dan menghajarnya karena sudah menyusahkan kami semua" ucap YamaP kesal


-(Keesokan Harinya)-


"Akanishi-san kemana ya? kok dia belum keluar dari rumah nya?" tanya Yamachan sambil celingak-celinguk dari dalam mobil

"kita tunggu saja sebentar lagi, mungkin dia sedang mempersiapkan sesuatu" jawab Maru

"hhh!! ini sudah 15 menit sejak kita sampai di sini, apa sebaiknya aku samperin kerumahnya ya?" ujar Yamchan lagi tidak sabar

"aaa!! are,  Akanishi-san"

"chotto matte, dia  bawa apa tuh? kok pake gembolan segala, udah kayak pengen pulang kampung" Tegoshi melihat dengan tatapan heran

"coba nanti kita tanya aja"

'Cekleek' suara pintu mobil terbuka pun terdengar

"aahh, minna, sumimasen deshita, ore wa okureta" ujar Akanishi-san sambil masuk ke dalam mobil

"daijoubu Akanishi-san, kita harus hayaku"

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Secepat mungkin YamaP menyetir mobil itu agar tidak telat menuju tempat yakuza itu, sesampainya di sana, terlihat sesosok pria bertubuh gagah sedang berdiri di depan rumahnya, dan di dekatnya banyak pengawal yang iktu berdiri bersamanya.
Kelima bersaudara itu beserta Akanishi-san turun dari mobil dan menyambangi yakuza itu, dan membicarakan rencana yang akan mereka jalankan pada hari itu. Sesudah itu para yakuza itu masuk kedalam mobil menuju ketempat Okazaki sang lintah darat itu berada, Akanishi-san dan kelima bersaudara itu mengikuti mereka dari belakang, dengan harapan semua rencana yang telah disusun oleh para yakuza itu berhasil.


Kira-kira 15 menit kemudian mereka semua tiba di sebuah tempat yang mewah dan megah, lebih mewah dari rumah mereka yang sudah seperti istana bagi mereka. Yakuza-yakuza itu turun dengan membawa pisau dan pistol yang disangkutkan di samping kantongnya

"waah, sugooiiii,,,, mereka terlihat seperti polisi saja" ujar Yama-chan tiba-tiba

"apaan yang keliatan kayak polisi sih? mereka tuh lebih mirip kayak detektif tau"

'tok..tok..tok..' tiba-tiba saja pengawal yakuza itu mengetuk kaca jendela mobil mereka, Maru pun segera membukanya

"ada apa?" tanya Maru

"kata bos kami, kalian harus tunggu di sini dan kalau kami membawakan kalian seseorang, salah satu dari kalian harus cepat keluar dari mobil dan masukkan mereka kedalam mobil kalian"

"lho? bukannya kemarin kalian menyuruh kami juga ikut masuk dengan cara mengendap-endap?" tanya Maru kembali

"bos kami takut kalian terluka dan terjadi sesuatu, jadi ia memutuskan untuk tidak menyusahkan kalian" ujar nya kembali

"baiklah, kami akan menunggu disini"


beberapa menit kemudian, mereka masih menuggu dan menuggu tapi belum ada pengawal yakuza itu yang muncul di ambang pintu.
Keresahan menghantui mereka semua terutama Akanishi-san yang sangat berharap bahwa Okazaki itu dapat di tangkap oleh para yakuza itu karena sudah menyusahkan anak sahabatnya, yang rela pulang pergi ke Shizuoka untuk melunasi utang-utang ayahnya.
Kerena menunggu cukup lama, Yama-chan dan Tegoshi tertidur pulas sampai sulit untuk dibangunkan.

tiba-tiba seorang pria berkacamata hitam alias pengawal yakuza itu muncul sambil menyeret-nyeret dua orang pria, yang satu gemuk dan satu lagi lumayan kurus.

"hei!!! Yama-chan!!, Tegoshi!!, ayo bangun!!! para yakuza itu sudah berhasil menangkap lintah darat itu tuh" teriak Ohno pake toa-toa

"uaaaa, iya-iya kami bangun, aduuh, lagian kenapa nangkep nya lama banget sih sampe aku ketiduran" ujar Yama-chan sambil ngucek-ngucek matanya.

YamaP, Ohno, dan Akanishi-san segera keluar dari mobil dan membawa kedua pria yang matanya tertutup kain ke dalam mobil mereka. Salah satu pengawal yakuza itu ikut di dalam mobil mereka untuk berjaga-jaga kalau salah satu tawanan mereka berontak. Sebelum mereka membawa tawanan itu ke sebuah gudang, Ohno dan saudaranya menyempatkan untuk berterimakasih kepada para yakuza dan pengawalnya.

"kami semua sangat berterimakasih karena kalian mau membantu kami" Ujar Ohno sambil membungkukkan badannya 90 derajat disusul dengan para saudaranya

"tidak usah sungkan, Okazaki itu kan juga musuh kami" ucap yakuza itu dan balas membungkuk juga

"kami akan serahkan bayaran sesuai dengan yang kau minta" ujar Ohno sambil mengeluarkan segepok uang

"arigatou gozaimashita"

"hai! doitashimashite"

Setelah menyerahkan uang itu, mereka kembali masuk kedalam mobil dan mengikuti para yakuza yang akan menunjukkan di mana gudang itu berada

-Di dalam Mobil-

"hei, Maru, menurutmu yang mana Okazaki itu?" tanya yama-chan dengan berbisik di telinga Maru

"kalau menurutku yang gemuk itu, soalnya  dari badannya aja udah keliatan dia suka makan pake duit haram.. hahahaha" sahut maru sambil tertawa

"iya, menurutku juga begitu, lagian aneh kan kalo yang kurus itu ternyata si Okazaki, tapi kira-kira pria yang satu lagi siapa ya?" tanya Yama-chan dalam hati


To be continued
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...